Home Uncategorized Putin Samakan Rusia dengan J.K Rowling, Merasa Jadi Korban ‘Cancel Culture’

Putin Samakan Rusia dengan J.K Rowling, Merasa Jadi Korban ‘Cancel Culture’

78
0
putin-samakan-rusia-dengan-j.k-rowling,-merasa-jadi-korban-‘cancel-culture’

Taktik ‘Cancel Culture’, yang secara sederhana berupa boikot online terhadap sosok atau produk problematis, semakin diperhitungkan sebagai serangan politik dengan dampak serius. Setidaknya itu pandangan Presiden Rusia Vladimir Putin. Seiring berlarut-larutnya konflik geopolitik yang menjerat Rusia setelah menyerang Ukraina, Putin mengeluh bahwa negaranya sedang jadi korban ‘cancel culture’ oleh negara-negara Barat.

Pernyataan yang nyeleneh itu disampaikan Putin dalam siaran pidato yang ditayangkan televisi nasional pada 25 Maret 2022. Putin berusaha menenangkan masyarakat Rusia, bahwa negara mereka akan baik-baik saja meski sedang jadi pariah internasional karena ngotot menginvasi Ukraina.

Hal paling menarik dari pidato tersebut, adalah saat Putin menyamakan nasib Rusia saat ini mirip seperti J.K Rowling, penulis seri Harry Potter yang sedang marak dikritik karena dianggap memiliki pandangan transfobik. Rusia, menurut Putin, hendak dikucilkan dari pergaulan internasional, dan budayanya serta sumbangan warganya bagi masyarakat dunia sedang diboikot oleh negara-negara Barat.

“Orang-orang di Barat belakangan juga meng-cancel Joanne Rowling, si penulis cerita anak yang populer itu,” kata Putin. “Semua itu terjadi hanya karena Rowling tidak memiliki pandangan segelintir orang yang memiliki nilai tertentu soal kesetaraan gender.”

Melengkapi pidato sang presiden, akun Twitter Kedutaan Rusia untuk Prancis di saat bersamaan mengunggah meme menggambarkan Amerika Serikat dan Uni Eropa menyuntikkan “Russophobia” kepada orang-orang di Benua Biru. Salah satu racun lain yang disebar negara Barat, merujuk meme tersebut, adalah ‘cancel culture’.

Motherboard sudah berusaha mewawancarai Putin terkait topik cancel culture di medsos sejak lama. Bukan kali ini saja dia mengomentari praktik boikot online tersebut. Namun, permintaan wawancara kami yang dikirim ke kantor kepresidenan Rusia tidak pernah direspons.

Putin lantas membandingkan bahwa masyarakat Rusia tidak pernah sampai meng-cancel budaya negara lain yang dianggap berseberangan. Dia mencontohkan pemerintah Amerika Serikat pada Perang Dunia II pernah mendukung pembakaran buku-buku yang mempromosikan Nazi, serta membenci segala hal berbau Jepang.

“Kita harus ingat, bangsa-bangsa yang melakukan cancel culture ini di masa lalu pernah sampai membakar buku,” kata Putin. “Tindakan macam itu tidak mungkin terjadi di Rusia. Kita adalah bangsa yang beradab yang menghargai segala jenis kebudayaan.”

(Tentu saja, Putin tidak menyebutkan fakta ini dalam pidatonya: Rusia, atau tepatnya Uni Soviet, sekian puluh tahun lalu rajin melarang peredaran buku yang kritis terhadap komunisme. Rezim Soviet juga mengirim penulis yang kritis ke gulag, atau bahkan membunuh mereka yang berpandangan “kontrarevolusioner”.)

Meski terkesan “dibela” oleh Putin, ternyata J.K Rowling tidak mengapresiasi pandangan sang presiden Rusia, bahkan balik mengecam keputusan Rusia menyerang Ukraina. Rowling secara terbuka mendukung Ukraina, serta memberi donasi dalam jumlah besar untuk misi sosial untuk melindungi anak-anak di Ukraina.