Home Uncategorized Rumah Sakit Paling Kesepian di Dunia ini Cuma Punya Dua Pasien

Rumah Sakit Paling Kesepian di Dunia ini Cuma Punya Dua Pasien

230
0
rumah-sakit-paling-kesepian-di-dunia-ini-cuma-punya-dua-pasien

Lelaki renta itu mengambil buku catatan dan pulpenku, lalu menuliskan huruf mirip ‘n’ dan ‘h’. “Saya sudah lama tidak menulis. Kamu bisa baca tulisannya?” tutur Sena Jenejasoriah, 53 tahun. Dia tersenyum, tak tahu harus berkata apa lagi. Ketika ditanyakan usianya, dia melontarkan “lima tiga”. Jenejasoriah tampaknya tak bisa mengingat angka dengan benar.

Jenejasoriah belum pernah bertemu dengan keluarganya lagi sejak menderita penyakit kusta 40 tahun silam. Dia dirawat di Rumah Sakit Kusta Pulau Mantheevu, salah satu dari dua rumah sakit kusta di Sri Lanka yang masih menampung pasien meski mereka sudah sembuh. 

Hanya tinggal dua pasien yang menerima perawatan di pulau dekat kota Batticaloa, sekitar 300 kilometer jauhnya dari ibu kota Sri Lanka. Rumah sakitnya kini tak lagi terurus dengan baik, dan hanya memiliki beberapa perawat saja.

“Keluarga membawaku ke rumah sakit yang tak jauh dari tempat tinggal saat kaki dipenuhi lesi,” Jenejasoriah memberi tahu VICE World News. Dia bilang berasal dari Beliatta, kota kecil di bagian selatan Sri Lanka.

“Saya awalnya dirawat di sana. Itu terakhir kalinya saya melihat mereka [keluarganya]. Saya tidak bawa apa-apa ketika pindah ke sini. Saya lupa di mana rumahku, dan tidak tahu bagaimana caranya pulang ke sana.”

Pasien kusta yang diasingkan ke Pulau Mantheevu di Sri Lanka

Ponniah Punnuthuraih adalah salah satu pasien yang masih dirawat di rumah sakit. Dia sudah sembuh, tapi lesi bekas kusta belum sepenuhnya hilang dari tubuhnya. Dia membutuhkan sepatu khusus agar bisa berjalan. Foto oleh Kris Thomas.

Jenejasoriah dipindahkan ke rumah sakit Mantheevu pada 1975. Saat itu, pulaunya lebih dikenal dengan sebutan koloni lepra. Para penderita diasingkan ke sana supaya tidak menularkan penyakitnya ke orang lain. Di masa lalu, kusta terdengar mengerikan karena tidak dapat disembuhkan.

Penjajah Belanda pertama kali membangun koloni lepra di Sri Lanka pada 1708. 213 tahun kemudian, tepatnya pada 1921, rumah sakit kedua dibangun di Pulau Manteevu oleh penjajah Inggris.

Dokumen yang berasal dari tahun 1930-an melaporkan rumah sakit dan koloni lepra telah menampung lebih dari 10.000 pasien. Tempat khusus itu memiliki 24 pondok, bangsal perempuan dan laki-laki, blok tata usaha, bangsal isolasi, tempat berpakaian, binatu, sekolah pemerintah, tempat tinggal staf dan asrama untuk para Suster Ordo Santo Fransiskus yang merawat pasien. Staf rumah sakit terdiri dari seorang dokter, dua apoteker, satu pengawas, 16 pekerja dan 16 pelayan.

Akan tetapi, rumah sakit semakin tak terawat selama 80 tahun terakhir. Lahan seluas 99 hektar itu dipenuhi dengan semak belukar dan pepohonan yang menjulang tinggi. Jalanan aspal sudah berubah jadi jalan setapak berpasir yang tertutup alang-alang. Pondoknya terbengkalai dan tinggal menunggu roboh.

Kondisi bangsal juga memprihatinkan. Dindingnya kusam, berubah warna jadi kuning kecoklatan karena kotoran burung. Lantai semen di sepanjang koridor sudah retak.

Sena Jenejasoriah mengelus anjing

Jenejasoriah mengelus anjing jalanan yang dia rawat. Foto oleh Kris Thomas

Sejarah rumah sakit jarang didokumentasikan. Rumah sakit ini kebakaran pada September 2009, beberapa bulan pasca perang saudara yang berlangsung selama tiga dekade. Angkatan Udara Sri Lanka dikerahkan untuk memadamkan kobaran api, dan dikabarkan mengevakuasi 13 orang (pasien dan staf). Tapi sayangnya, sebagian besar bangunan hangus dilahap si jago merah.

Pulaunya kembali menjadi perhatian nasional ketika Presiden Gotabaya Rajapaksa mengusulkan untuk mengubah rumah sakit jadi penjara pada Juli lalu.

Serikat pekerja lokal Government Medical Officers’ Association juga mengusulkan didirikannya pusat karantina Covid-19 dan penyakit menular lainnya di pulau tersebut. Saat ini, rumah sakit Mantheevu dikelola dan diawasi oleh Batticaloa Teaching Hospital milik pemerintah.

Direktur Batticaloa Teaching Hospital Dr Kalaranjani Ganesalingam mengungkapkan kementerian kesehatan menginstruksikan agar pasien di pulau Mantheevu tidak dipindah ke tempat lain. Menurutnya, instruksi tersebut diberlakukan sejak dulu dan tak pernah diubah. “Kami [Batticaloa Teaching Hospital] melayani semua kebutuhan mereka [pasien] kapan saja,” terang Dr Ganesalingam.

Koridor di lantai atas Rumah Sakit Pulau Mantheevu, Sri Lanka

Koridor di lantai atas bangunan TU di rumah sakit Mantheevu. Foto oleh Kris Thomas.

Chandrakumara telah bekerja sebagai petugas TU selama 15 tahun. Lelaki 45 tahun itu belum menikah, dan menghabiskan sebagian besar waktunya di pulau. “Akan lebih baik jika pasien dipindahkan dari pulau,” ujarnya. “Ke tempat yang fasilitasnya lebih memadai dan bisa berinteraksi dengan banyak orang. Itu bagus untuk kesehatan mental mereka. Siapa yang tahu seperti apa kondisi mental mereka selama di sini?” imbuh Chandrakumara dengan enggan.

Ponniah Punnuthuraih, 63 tahun, adalah pasien tertua di rumah sakit itu. Sama seperti Jenejasoriah, pikirannya bercabang ke mana-mana. Penuh dengan kenangan masa lalu. “Saya dibawa ke sini saat masih lima tahun. Ada banyak pasien dulu. Seingat saya ada 50 orang lebih, tapi sekarang tinggal sedikit,” ucapnya.

Kedua pasien memiliki ruangan yang sama. Kamar Jenejasoriah terletak di pojok bangunan, jauh dari kamar Punnuthuraih. Setiap kamar diisi satu ranjang, serta lemari kecil untuk menaruh sarung, pakaian, dan peralatan makan.

Jenejasoriah mengurus tiga kucing dan dua anjing yang ditelantarkan pemiliknya, sama seperti yang dialami sang pasien. Punnuthuraih sering kesal dengan dia karena kotoran hewannya menumpuk di dekat tempat tidur. Akhirnya, Jenejasoriah tidur di kamar paling jauh.

Punnuthuraih adalah satu-satunya penghuni rumah sakit yang memiliki radio dan televisi. Petugas sering berkunjung ke kamarnya untuk mendengarkan radio atau menonton TV. “Saya menghabiskan waktu dengan nonton TV dan mendengarkan radio,” ujarnya. “Saya mandi, [dan] makan saat makanan sudah siap.”

Punnuthuraih ingin sekali bertemu keluarganya lagi, tapi dia tidak ingat rumahnya di mana. “Saya tidak punya uang dan keterampilan. Saya tidak bisa cari kerja. Saya tidak kenal orang di luar pulau karena tinggal di sini seumur hidupku. Bagaimana caranya saya pulang?” tanyanya.

Mereka berdua tidak bisa membayangkan hidup di luar pulau. Situasi di luar sana hanya akan membingungkan mereka karena tidak pernah keluar dari rumah sakit ini. Ketika ditanyakan ingin meninggalkan pulau ini atau tidak, Jenejasoriah hanya bisa tersenyum canggung. Punnuthuraih mengernyitkan alis dan mengabaikanku.

“Kalaupun bisa pulang ke rumah dan bertemu mereka [keluarga], saya tak yakin mereka akan menerimaku. Mereka pasti akan membenciku.”

Follow Kris di Twitter.