Home Uncategorized Salah Satu Vaksin Covid-19 Berisiko Membunuh Ratusan Ribu Hiu di Alam Bebas

Salah Satu Vaksin Covid-19 Berisiko Membunuh Ratusan Ribu Hiu di Alam Bebas

157
0
salah-satu-vaksin-covid-19-berisiko-membunuh-ratusan-ribu-hiu-di-alam-bebas

Berbagai lembaga berlomba-lomba menghasilkan vaksin ampuh untuk menangani pandemi Covid-19. Namun, di tengah kabar yang dinanti-nanti publik itu, sebagian penyayang binatang khawatir pada nasib hiu. Sebab, sebagian vaksin yang kini diuji Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), memanfaatkan ekstrak liver hiu sebagai bahan bakunya.

Ekstrak yang disebut bernama squalene, unsur kimia yang biasa didapat dari ekstrak minyak liver hiu. Selama ini, industri farmasi dan kosmetik sudah biasa mengubah squalene menjadi krim pelindung sinar matahari. Kali ini, peran squalene bukan untuk kosmetik, melainkan menjadi “adjuvant”—istilah ilmu farmasi yang berarti fungsinya untuk memperkuat efek vaksin dengan cara memperbesar imunitas tubuh.

Mengingat proses pembuatan vaksin ini ditujukan untuk skala global, maka ekstrak liver hiu yang dibutuhkan berjumlah besar. Merujuk data terbaru yang diumumkan WHO, sejauh ini sudah ada 176 kandidat vaksin yang masuk fase uji pra-klinis karena dianggap potensial mengobati Covid-19. Dari ratusan kandidat itu, lima vaksin di antaranya memakai adjuvant squalene, menurut laporan organisasi swadaya Shark Allies.

Satu yang paling kentara memakai ekstrak minyak liver hiu adalah MF59, adjuvant yang mengandung 9,75 miligram squaline. Pengembang vaksin dengan ekstrak liver hiu itu adalah the University of Queensland, bersama perusahaan bioterapi CSL dan Seqirus. Andai vaksin itu lolos, dan disuntikkan pada seluruh populasi Bumi, minimal 249.351 hiu di alam bebas terpaksa dikorbankan menurut Shark Allies. Angkanya bisa melonjak hingga setengah juta hiu jika produksinya makin massal dalam beberapa tahun ke depan. Sejauh ini, squalene masih didapat dengan cara membunuh hiu.

“Angka-angka itu bukan sekadar spekulasi,” kata Stefanie Brendl, Direktur Eksekutif Shark Allies, saat dihubungi VICE News. “Bukan berarti ketika vaksinnnya disetujui otomatis 500 ribuan hiu langsung mati diburu. Tapi kebutuhan vaksin itu, apabila kelak terbukti efektif, jelas akan meningkatkan perburuan hiu.”

Shark Allies menekankan bahwa mereka bukan menolak vaksin Covid-19 tertentu. Masalahnya, dengan banyaknya vaksin potensial menjadi penawar wabah, ada risiko ekologis yang dipikirkan, sebab hiu adalah elemen penting rantai makanan di alam. Semua pemangku kepentingan perlu memikirkan cara mendapat squalene tanpa harus menumbalkan hiu.

“Skenario yang paling kami khawatirkan adalah dunia di masa depan mengalami ketergantungan pada minyak liver hiu untuk kebutuhan pengobatan. Praktik macam itu tidak berkelanjutan, sebab perburuan hiu yang berlebihan sekian tahun terakhir membuat populasi ikan itu sudah kritis,” kata Brendl.

Tanpa ada kebutuhan vaksin Covid-19 saja, industri farmasi dan kosmetik global sudah membunuh 2,7 juta hiu selama 10 tahun terakhir. Angka itu diprediksi akan meningkat dua kali lipat pada 2024. Selain livernya, hiu sering ditangkapi nelayan berbagai negara lantaran siripnya jadi makanan favorit masyarakat Tiongkok, yang meyakininya berkhasiat untuk mengobati beragam penyakit. Hiu Putih dan hiu kepala martil jadi dua spesies yang paling terancam populasinya akibat praktik industri farmasi.

Kecemasan organisasi penyayang binatang disadari oleh kalangan ilmuwan. Itu sebabnya sudah mulai ada kajian mencari alternatif squalene tanpa harus membunuh hiu. Saat ini sudah ada upaya memproduksi squalene dari minyak nabati atau bakteri, seperti dilakukan tim asal Amerika Serikat pda 2015. Sementara peneliti di Polandia meyakini squalene bisa didapat dari biji tanaman amaranthus palmeri.

“Industri farmasi di manapun pasti akan menangguk profit besar bila vaksin yang mereka buat bisa menjadi penawar pandemi global,” kata Brendl. “Maka, kami bayangkan, mereka perlu bertanggung jawab untuk memikirkan opsi mendapat bahan baku vaksinnya dari sumber yang berkelanjutan.”

Follow Gavin di Twitter

Artikel ini pertama kali tayang di VICE News