Home Uncategorized Sejumlah Anak Muda Menikmati Bisnis Minim Pesaing dengan Jadi Perancang Kostum Cosplay

Sejumlah Anak Muda Menikmati Bisnis Minim Pesaing dengan Jadi Perancang Kostum Cosplay

43
0
sejumlah-anak-muda-menikmati-bisnis-minim-pesaing-dengan-jadi-perancang-kostum-cosplay

Sebagaimana gadis sebayanya, Marchella “Frea Mai” senang membayangkan dirinya menjelma perempuan berkekuatan super ala Sailor Moon.

Di tahun 2006, perempuan yang akrab disapa Frea itu duduk di bangku SMK. Kebetulan ia mengambil jurusan Tata Busana. Sadar akan keterampilan menjahitnya, Frea mulai merancang sendiri kostum cosplay pertamanya.

Tak dinyana, kostum cosplay buatannya diakui keluarga hingga guru sekolah. Hal itu mendorong Frea kian aktif memamerkan hasil rancangannya di berbagai ajang cosplay. Perlahan ia mulai menjalin relasi dengan sesama cosplayer.

Tersebab banyak kenalan yang memuji mutu jahitannya, Frea memberanikan diri membuka jasa jahit kostum cosplay pada 2009, tak lama setelah ia lulus SMK. Frea melihat peluang di ceruk pasar ini.

“Awalnya gak pede dan lebih kayak keharusan saja karena sudah sekolah jahit,” kenang perempuan 32 tahun itu saat ngobrol bersama VICE. “[Tapi] waktu itu penyedia jasa penjahit kostum masih langka banget, jadi aku dapat timing dan market yang pas.”

Saat merintis usahanya, pelanggan Frea didominasi teman-teman dekatnya sendiri, yang rutin berdandan jadi karakter favorit mereka saat ada acara jejepangan maupun kumpul bareng komunitas pencinta budaya Jepang.

Frea lupa-lupa ingat kostum pertama yang ia rancang untuk pelanggan. Tapi kalau tidak salah, itu adalah Hatsune Miku, vocaloid atau program pengisi suara perempuan yang bisa bernyanyi. Vocaloid ini digambarkan sebagai gadis remaja yang berpakaian kemeja dan rok mini abu-abu dengan sentuhan warna biru kehijauan.

Jasa menjahit Frea makin berkembang berkat ketelatenannya membagikan di Facebook, foto-foto cosplay pribadi saat memakai kostum buatan sendiri. Tak jarang juga ia memamerkan foto pesanan pelanggan yang sudah jadi.

Media sosial berhasil memperbesar keterkenalan Frea sebagai cosplayer sekaligus costume maker (biasa disingkat cosmaker). Pada September 2013 atau setelah 4 tahun terjun di bisnis ini, Frea membuat halaman Fairy Magic Costume-maker di Facebook setelah melihat adanya peminat.

Jasa cosmaker-nya kini telah merambah Instagram, dan diikuti lebih dari 500 orang. Lalu masih ada 6.550 pengikut di akun pribadi Frea.

Dengan bertambahnya orderan masuk, jenis kostum yang ia tangani pun semakin beragam. Akan tetapi, kostum ciptaannya dominan berbahan kain. Frea jarang membuat kostum berbahan rumit, seperti baju zirah.

Sempat ada masanya cosmaker yang berdomisili di Jakarta ini menerima begitu banyak pesanan membuat kostum karakter Touken Ranbu. Ini adalah permainan koleksi kartu yang menampilkan jenis-jenis pedang Jepang sebagai sosok lelaki tampan. Sebagian besar karakter game ini digambarkan memakai yukata atau kimono.

Di lain waktu, jika harus bikin armor atau senjata, ia akan berkolaborasi bersama rekan cosplayer yang jago merancang properti tersebut.

Kualitas bahan yang dipilih Frea serta kerapian jahitannya tidak usah diragukan lagi. Frea sendiri mengaku tak ngoyo menerima orderan. Soalnya dibutuhkan riset mendalam sebelum ia mulai menjahit kostum. Asal tahu saja, sekali riset bisa memakan waktu berhari-hari hingga berminggu-minggu. Ini karena ia harus mencari bahan yang nyaman dipakai, tak mudah rusak, sekaligus bagus secara estetika.

“Riset satu karakter saja bisa sebulan lebih, untuk pikirin jenis kain apa yang cocok buat karakter tersebut,” jelasnya. “Misalnya karakter petarung, enggak mungkin kan aku pilih kain satin.”

Lama pengerjaan suatu kostum tergantung tingkat kesulitannya, namun rata-rata paling cepat satu bulan. Durasinya bisa sampai 3-6 bulan kalau desain rumit dan penuh detail kecil. Belum lagi jika bahannya susah dicari di pasar lokal, yang semakin mengulur waktu sebab ia mesti beli kain impor. Tak heran, meski sudah 14 tahun menekuni profesi cosmaker, selama ini ia “cuma” mengerjakan 50-an kostum saja.

Untuk biaya satu kostum, Frea mematok harga mulai satu jutaan. Kostum termahal yang ia desain berharga Rp8 juta.

Jasa cosmaker punya pasarnya sendiri 

Bagi seorang cosplayer, bela-belain menjahit kostum cosplay tentunya menghabiskan biaya besar. Harganya tidak semurah membeli atau menyewa kostum jadi. Namun, seperti pepatah “Ada harga, ada rupa”, tidak ada jaminan kostum murah akan bagus jahitannya. Kadang-kadang muat di badan saja tidak.

Bagi sejumlah cosplayer, khususnya mereka yang kolektor, lebih baik membayar ongkos jahit gede demi mendapat kostum sesuai harapan mereka.

Hal tersebut diakui Rei, pemuda 22 tahun asal Semarang yang mendirikan butik kostum online Lorei Cos bersama pasangannya, Winda Lova, yang sudah malang melintang di kancah cosplay lokal. 

Saat ini, banyak cosplayer juga menyandang status influencer karena transformasi mereka yang total banget. Mereka mampu menirukan gaya suatu karakter, seolah-olah karakter itu menjadi nyata. Untuk mencapai performance yang sempurna, mereka akan memperhatikan sampai ke detail terkecil kostumnya. Oleh karena itulah, cosplayer memercayakan pembuatan kostumnya pada perancang ahli kostum cosplay, seperti Winda dan Frea.

“Beberapa cosplayer, atau bahkan influencer, terkadang memang suka koleksi kostum […] alasan utamanya karena kostum itu dibikin khusus buat mereka, jadi ukuran, detail, atau special request dari mereka bisa terpenuhi,” kata Rei, yang menangani manajemen dan pemasaran Lorei Cos.

Selain itu cosplayer-cosplayer yang sudah terkenal dan sering mengikuti acara besar cenderung ingin jadi orang pertama memeragakan karakter baru. Seandainya kostum karakter itu belum tersedia di marketplace Tiongkok, yang merupakan tempat favorit cosplayer mencari kostum, pilihan mereka jatuh pada cosmaker. Dengan cara ini, kamu bisa jadi Gepard atau Dan Heng dari Honkai Star Rail (game terbaru besutan HoYoverse) tanpa tunggu lama.

Inilah pasar yang terus membesar bagi para cosmaker. Muhammad Audi Al Ghifari alias Hereford ikut membuktikannya sendiri. Pemuda 25 tahun asal Bogor, Jawa Barat ini mengaku punya pemasukan minimal Rp5 juta setiap bulan berkat menyediakan jasa bikin properti cosplay. Pedang dan armor adalah spesialisasinya.

Hereford pertama kali membuat prop untuk keperluan pribadi. Ia sadar ikut cosplay tidak murah, sedangkan kala itu Hereford masih mahasiswa. Ia belum punya penghasilan tetap untuk menyalurkan hobinya. Untuk memangkas biaya, Hereford mulai mengutak-atik material yang ada di rumah.

Satu mimpi Hereford, ia ingin mengikuti lomba cosplay tingkat nasional, yang mana mewajibkan kelengkapan kostum hingga prop. Peserta lomba biasanya harus bisa membuat semuanya sendiri.

Saat ini Hereford belum berhasil mewujudkan impiannya itu. Tapi setidaknya hobi itu sudah jadi sumber rezeki baginya. Sama seperti Frea, lelaki itu awalnya menawarkan jasa bikin properti cosplay ke teman-teman dekatnya. Kini, pedang dan senapan ciptaannya sudah terkirim ke Medan, Sulawesi, hingga Kalimantan. Ia juga pernah menerima pesanan dari luar negeri. 

Pada saat ada yang ingin menggunakan jasanya, Hereford akan meminta mereka menyediakan keterangan senjata (atau prop lain yang diinginkan) sejelas-jelasnya. “Aku kasih opsi prop-nya mau pakai LED atau tidak, mau ada mekanismenya atau tidak, request warna spesifik atau bahan bagaimana,” tuturnya.

Kebanyakan pemesan datang karena promosi di medsos: Instagram, Facebook, dan TikTok. Calon pembeli bisa menyaksikan sendiri kualitas senjata bikinan Hereford pada video-video TikTok-nya. 

Pelanggan banyak, sedikit pesaing

Lorei Cos tergolong cosmaker besar. Mereka membuka 20-30 slot pesanan tiap bulannya, sejak berdiri pada Mei 2022. Dari satu kostum, harga berkisar dari Rp500 ribu sampai Rp7 juta. 

Semua pesanan ditangani Winda, dibantu tiga karyawan untuk membuat pola dan menjahit. Menurut Rei, pelanggan mereka tersebar di berbagai negara Asia.

Anehnya, ketika tren cosplay berkembang pesat di Indonesia, bisnis cosmaker malah sepi pesaing. Jumlah yang ada saat ini bisa dihitung jari. Penyebabnya, kalau kata Rei, karena profesi ini hanya dapat dilakukan oleh mereka yang mumpuni. Pasalnya, mendesain kostum cosplay sangat rumit. Penjahit harus telaten supaya mencegah jahitan dirombak karena kurang sana-sini. 

Tantangan ini begitu terasa oleh Rei dan Winda, yang bercita-cita mengembangkan bisnis mereka tapi terkendala tenaga kerja. Akibatnya, produksi mereka terkadang tak dapat mengimbangi penjualan.

Costume atelier bukan seperti konveksi atau garmen pada umumnya yang cuma bikin celana atau kaus. Tingkat kesulitannya tinggi sekali,” ungkap Rei. “Nah, kebetulan di daerah Semarang sangat minim tenaga jahit yang memang mampu.”

Karena keterbatasan tenaga, Lorei Cos biasanya butuh 1-2 bulan untuk menyelesaikan satu pesanan. Makanya mereka belum sanggup menerima pesanan kapan saja. Jumlah 20-30 slot per bulan hanya estimasi.

Frea sedikit banyak merasakan tantangan ini pula, apalagi ia mengerjakan semuanya sendirian. Sementara itu, ia kadang mendapat calon pembeli yang menetapkan tenggat waktu tak masuk akal. “Aku sering banget dapat inquiry yang deadline-nya seminggu, atau bahkan tiga hari,” keluhnya.

Namun, Frea memaklumi saat ada permintaan sulit seperti itu. Ia sadar tak semua orang mengerti bikin kostum cosplay tidak segampang menjahit baju biasa.

“Asumsinya [pembeli], kostum itu bisa dari kaus yang ada di pasar, terus digunting dan tempel saja kayak prakarya. Padahal enggak gitu,” ia melanjutkan. Itulah sebabnya, sejak awal Frea jujur kepada calon pembeli tentang lamanya proses pembuatan hingga biaya yang diperlukan untuk menghasilkan kostum berkualitas.

“Aku jelasin harus pelajari karakternya dulu, belum [lagi] harus mencari bahan dan minta approval klien [untuk setiap progress],” ujarnya. 

Frea akan pilih mundur jika pembeli keukeuh dengan deadline di awal. “Minta maaf karena aku enggak mau kerja dengan cara begitu,” ia menambahkan.

Frea sedih melihat cosplayer buru-buru memakai kostum karakter yang sedang booming. Cosplay menurutnya jadi kehilangan makna ketika orang berlomba-lomba menjadi yang pertama tanpa mementingkan kualitas. Padahal, cosplay sejatinya mengedepankan mutu kostum dan prop, serta kelihaian cosplayer membawakan karakter tersebut.

“Semua orang bisa pakai kostum, tapi enggak semua orang bisa jadi cosplayer. Malah ada juga yang pakai kostum, tapi enggak tau itu karakter apa,” tandasnya.

Walau begitu, ia optimistis masih banyak orang yang mengapresiasi seni cosplay dengan seutuhnya. Dengan demikian, juga masih ada ruang bagi cosmaker untuk terus berkembang. Yang terpenting mereka mampu menempatkan self-branding dengan tepat, dan tidak termakan tren cosplay.

Hereford mengamini ucapan Frea. Ia telah menciptakan sekitar 300 buah senjata dan aksesori sejak menekuni bisnis prop maker tiga tahun lalu. Setiap bulannya Hereford dapat mengerjakan hingga 10 pesanan sendirian.

“Namanya juga bisnis, awal-awal enggak langsung profit, jadi harus bikin nama dulu. Banyakin kenalan dan portofolio, perlahan berkembang dan syukurnya per bulan bisa lebih dari UMR sekarang,” kata Hereford.

Hereford percaya suatu saat nanti cosplay takkan lagi dipandang aneh sehingga terbuka kesempatan lebih lebar untuk orang-orang sepertinya berkarya.

Sementara itu, Frea bangga dengan pengalamannya di dunia cosplay. Siapa sangka, hobi dan kesenangannya menjahit telah mengharumkan nama bangsa di ajang lomba cosplay internasional.

Pada 2016 lalu, Frea bersama partner cosplay-nya, Rian Cyd, menyabet gelar juara dunia dalam World Cosplay Summit di Jepang. Kala itu, mereka melakukan pertunjukan tubuh terbelah sambil memerankan Cain dan Seth Knightlord dari Trinity Blood. Kostum yang mereka kenakan diciptakan berdua.