Home Uncategorized Serial Baru Netflix Menyoroti Perjuangan Ajaib Bocah Thailand yang Terjebak di Gua

Serial Baru Netflix Menyoroti Perjuangan Ajaib Bocah Thailand yang Terjebak di Gua

107
0
serial-baru-netflix-menyoroti-perjuangan-ajaib-bocah-thailand-yang-terjebak-di-gua

Empat tahun lalu, seluruh dunia tegang mengikuti upaya penyelamatan 12 bocah Thailand yang terjebak di dalam gua bersama pelatihnya. Para pesepakbola junior, yang tergabung dalam klub Wild Boars, baru bisa menghirup udara bebas 18 hari kemudian.

Peristiwa menegangkan itu tersiar sampai ke Los Angeles, tempat saya mencari nafkah kala itu. Saya mendadak jadi pusat perhatian orang sekantor karena mereka tahu saya merantau dari Bangkok. Mereka penasaran dengan kelanjutan kisahnya. Kamu tahu tim sepakbola itu? Ada saudaramu gak di situ? Gua Chiang Rai di mana, sih? Saya baru tahu di Thailand juga ada gua.

Anggota terakhir baru berhasil diselamatkan, tapi Hollywood sudah kegatelan mengangkat kisah mereka ke layar lebar. Topik obrolan yang tadinya berpusat pada nasib anak-anak beserta pelatihnya seketika berubah menjadi rencana penyampaian kisah “agar lebih dipahami khalayak luas”.

Saya semakin bingung saja dibuatnya. Di satu sisi, saya terharu melihat dunia mendoakan keselamatan mereka. Tim gabungan dari berbagai negara bahu-membahu menuntun anggota Wild Boars keluar dari gua. Di sisi lain, aneh rasanya menyaksikan segelintir orang sibuk membicarakan potensinya sebagai karya film, padahal misi penyelamatan masih berlangsung.

Sudah ada empat proyek film yang terinspirasi darinya, dan karya terbaru berasal dari Netflix. Namun, di saat sebagian besar film menggambarkan betapa heroiknya aksi tim penyelamat, Thai Cave Rescue menjadi satu-satunya yang menyoroti perjuangan para remaja bertahan hidup di dalam gua.

Serial yang terdiri dari enam episode ini disutradarai oleh pembuat film Kevin Tancharoen dan Nattawut Poonpiriya, serta dibintangi aktor yang mayoritas orang asli Thailand. Gua Chiang Rai menjadi latar filmnya.

Titan ngobrol bareng Coach Eak sebelum bertanding. Foto: Netflix

Titan ngobrol bareng Coach Eak sebelum bertanding. Foto: Netflix

Episode pertama dibuka dengan adegan para wartawan memadati lokasi kejadian untuk mengabarkan peristiwa terjebaknya 12 anak dan seorang pelatih (Coach Eak diperankan oleh Papakorn “Beam” Lerkchaleampote) di dalam gua. Saat itu tanggal 10 Juli 2018, gua Tham Luang yang tersembunyi di balik Pegunungan Nang Non sedang banjir akibat hujan lebat. Kamera kemudian memperlihatkan pejabat negara dibantu bersama pasukan khusus Angkatan Laut AS dan tim sukarelawan tak gentar memasuki gua meski diguyur hujan. Adegan lalu berubah ke seorang anak laki-laki yang gemetaran menerjang gelombang air di hadapannya. “Titan,” seorang penyelam memanggilnya. “Ayo jalan.” Tiba-tiba kita dibawa kembali ke delapan jam sebelum kemalangan menimpa anggota klub Wild Boars.

Dari episode awal, Thai Cave Rescue mengajak penonton mengintip kehidupan para remaja di rumah mereka masing-masing, serta persiapan mereka menjelang pertandingan bola. Meski agak didramatisir, serial ini tidak meniadakan apa yang tak terlihat di balik layar. Ada yang orang tuanya selalu bertengkar, ada juga yang tinggal bersama bibi dan berharap bibi bisa menonton pertandingannya. Seorang anak diasuh neneknya, tapi sang nenek ingin mengirimnya ke rumah paman ratusan kilometer jauhnya. Lalu ada bocah yang ibunya tidak memegang izin tinggal di Thailand.

Aksi penyelamatan mereka bersandar di atas latar belakang yang amat beragam ini, dan semakin bersinar tiap muncul adegan yang menampilkan betapa solidnya Wild Boars bahkan di tengah cobaan sekalipun. Para pejabat, sukarelawan dan semua pihak yang terlibat dalam upaya penyelamatan juga merupakan karakter yang berkembang secara alami.

Kita bisa merasakan lautan emosi yang bergejolak di antara mereka, saat atlet junior menangis, tertawa dan berusaha tegar menghadapi segala kemungkinan. Kita menyaksikan bagaimana anggota keluarga mengharapkan mukjizat datang kepada mereka. 

Seorang ibu kalang kabut mencari tahu apakah putranya, Mark, juga terjebak di dalam gua. Foto: Netflix

Seorang ibu kalang kabut mencari tahu apakah putranya, Mark, juga terjebak di dalam gua. Foto: Netflix

Thai Cave Rescue diciptakan bukan untuk “mengglobalkan” kisah mereka, berbeda dari ide-ide yang saya dengar pada 2018 lalu.

Seperti dalam episode kedua misalnya. Wild Boars sudah sembilan hari terjebak di dalam gua. Mereka tampak terbaring lemah di lantai gua, sudah tidak ada tenaga untuk melakukan apa-apa. Bocah bernama Adul mendengar suara asing dari kejauhan, jadi dia bertanya kepada Biw di sampingnya apakah dia juga mendengar suara itu. “Palingan hantu. Cuekkin saja,” jawabnya lirih. Adul lalu berkata suaranya berasal dari air dan bukan bahasa Thailand. Biw meralat kata-katanya, bahwa hantu itu dari luar negeri.

Obrolan ringan ini merangkum poin yang hendak disampaikan Thai Cave Rescue: membalikkan sudut pandang Hollywood dan memusatkan perhatian pada ke-13 orang yang terjebak di dalam gua, bukan pada tim penyelamat. Kali ini, para penyelam yang berjasa digambarkan sebagai sosok “asing” atau “farang”, seperti yang dikatakan Biw.

“Kru film menangkap jiwa mereka [sebagai orang Thailand] secara seutuhnya,” kata Emily Teera, penulis-sutradara kelahiran Bangkok yang tinggal di Los Angeles, saat ditanya pendapatnya tentang serial ini. “Banyak unsur kebudayaan asli yang disinggung dalam serial, yang akhirnya membuatku kangen kampung halaman. Dari sinilah saya tahu kru film telah berhasil melakukannya.”

Coach Eak di dalam gua. Foto: Netflix

Coach Eak di dalam gua. Foto: Netflix

Kita terenyuh menyaksikan adegan di dalam gua. Serial ini berusaha keras memvisualkan perjuangan mereka seakurat mungkin, tapi dengan sedikit sentuhan efek dramatis agar semakin menggugah hati. Contohnya seperti saat penyelam membius para bocah untuk mempermudah proses penyelamatannya. Namun, berkat adegan dramatis ini kita merasa lebih lega ketika mereka berhasil diselamatkan. Kita melihat sukacita yang memancar di antara kerumunan orang. Para pejabat akhirnya bisa bernapas lega. Pemirsa yang menyaksikan upaya penyelamatan dari layar kaca berteriak gembira. Adegan terakhir ditutup dengan kembalinya Wild Boars ke lapangan bola, dihiasi montase aktor serta para remaja yang mereka perankan. Pemandangan ini mengingatkan kita, mereka hanyalah anak-anak suka main bola. 

Serial ini menjadi bukti industri film dapat menelurkan tontonan yang luar biasa menakjubkan apabila kita mau memberi kesempatan pada pembuat film yang selama ini jarang direpresentasikan di Hollywood untuk berkarya sepenuh hati. Kita akan disuguhkan kisah yang emosional dan mengharukan tanpa menjadikan budaya Asia Tenggara sebagai sesuatu yang eksotis bagi orang asing.

Beberapa momen dalam serial mungkin terkesan sedikit klise dan lebay, tapi kisah yang didramatisir sudah menjadi ciri khas sinematik saat mengangkat peristiwa bersejarah. Hal itu juga menambah keaslian dari ceritanya, serta memunculkan perasaan memahami baik bagi penonton lokal maupun global.

Thai Cave Rescue dikemas dengan permainan emosional yang menawan, hingga kita para penonton terlarut dalam suasana menegangkan dan ikut merasakan semua suka duka yang mereka lalui sepanjang film.

Follow Nimarta Narang di Instagram.