Home Uncategorized Setelah Nonton ‘Tenet’, Aku Jadi Yakin Christopher Nolan Tidak Sejenius Kata Orang

Setelah Nonton ‘Tenet’, Aku Jadi Yakin Christopher Nolan Tidak Sejenius Kata Orang

187
0
setelah-nonton-‘tenet’,-aku-jadi-yakin-christopher-nolan-tidak-sejenius-kata-orang

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Prancis. Ada beberapa spoiler ringan dalam ulasannya.


Setelah merilis Dunkirk pada 2017, sebuah film perang yang lumayan menyentuh dengan sajian visual memukau, tidak mengherankan bila penggemar sinema merasa Christopher Nolan menuju puncak kreativitasnya sebagai sutradara. Kita mengira sineas Inggris itu masih bisa berkembang dan bakal menghadirkan mahakarya baru di tengah kejumudan industri film arus utama yang sedang didominasi genre superhero. Beberapa sinefil fanatik bahkan menganggapnya jenius yang akan menyelamatkan dunia perfilman Abad 21.

Maaf, kawan-kawan, asumsi itu ternyata meleset jauh. Nolan masih dan bahkan tambah pretensius.

Semua indikasi kalau Nolan merasa karya-karyanya “harus cerdas” sudah langsung terasa dari tiga menit awal Tenet, film terbarunya yang kini akhirnya tayang di bioskop Prancis, Inggris, dan Amerika Serikat, setelah sempat tertunda akibat pandemi corona. Alih-alih terasa pintar, Tenet dengan cepat mengantar kita menuju jalinan cerita amburadul yang sulit diikuti, apalagi dinikmati.

Plotnya mustahil diringkas. Intinya, saya gambarkan saja beberapa momen kunci yang menjadi inti dari film Tenet: ada kejar-kejaran mobil melintasi ruang dan waktu, kiamat kecil mengancam Bumi, serta aksi spionase memanfaatkan lukisan palsu untuk mencuri plutonium.

Tenet menggabungkan pakem cerita serta visual beberapa genre film berbeda, tentu saja tetap memanjakan mata. Masalahnya ini film Nolan yang paling radikal. Dalam artian, dia sudah tak lagi peduli sama plot, perkembangan karakter, serta realistis tidaknya suatu adegan.

Tentu saja, semua tema khas Nolan hadir kembali dalam Tenet. Beberapa tema klise itu misalnya manipulasi ruang dan waktu, renungan soal kematian, ikatan keluarga, serta membuat ledakan dan tabrakan tanpa CGI. Uniknya, meski film ini kacau dari segi cerita, tidak terasa lagi ada sentimentalitas berlebihan yang membuat film Nolan terasa menye-menye (contohnya seperti yang dialami Interstellar).

Tenet dipenuhi jargon intelek yang seakan-akan berteriak pada penonton “gila, cerdas banget nih ceritanya”. Namun semua manipulasi gambar dan editing itu terasa dingin. Terasa teknis sekali. Tidak ada jiwa di sana. Rangkaian cerita dalam Tenet ingin pamer dan membuatmu merasa goblok kalau sampai tidak paham selama menonton.

Akting bintang-bintang utamanya pun gagal mengangkat film ini menjadi lebih enak disaksikan. Karakter antagonis yang diperankan Kenneth Branagh, bernama Andrei Sator, adalah pengusaha hitam Rusia, bagian dari oligarki negara itu, yang aksennya terasa dibuat-buat. Kalian jadi teringat tokoh Rusia jahat di film laga kacrut Hollywood era 80’an saking jeleknya aksen Branagh. Sementara tokoh yang diperankan Robert Pattinson (Neil) dan John David Washington, sebagai duet bintang utama, terlalu sering mengucapkan dialog cringe. “Aku merasa ini adalah awal dari persahabatan indah… tapi berlangsung secara terbalik,” kata Neil kepada si tokoh utama tanpa nama. Mengingatnya lagi membuatku gemetar geli saking lebaynya.

Selama nonton Tenet, saya dan beberapa penonton lain yang berdiskusi selepas pemutaran sampai pada kesimpulan yang sama: Nolan ini sepertinya sedang tidak tahu mau ngapain sama ceritanya kali ini. Intinya, Tenet adalah film mengenai konsep palindrome (contoh paling gamblang tentu judulnya, yang terbaca sama dari depan maupun belakang). Di beberapa bagian, kita mulai mikir “ini awal film sama dengan endingnya ya?”

Dibanding melampaui karyanya yang lebih matang, seperti Memento atau Dunkirk, Nolan kini mengulang kegagalan The Prestige. Film soal rivalitas pesulap Inggris Abad 19 yang ternyata berakhir dengan plot twist maksa ala-ala filmnya M Night Shyamalan. Nolan selalu terobsesi membuat penonton bingung, mempertanyakan apa yang nyata dalam cerita, sebelum menghadirkan kejutan. Dalam Tenet, semua kejutan tadi terasa hambar karena isi filmnya sendiri sudah penuh upaya membingungkan kita semua.

Tenet dikesankan sebagai sinema sungguhan, pura-puranya ingin menyamai mahakarya sekelas 2001: A Space Odyssey, meski pada dasarnya tidak kalah klise seperti film-film superhero Marvel. Tapi tetap ada aspek yang patut dipuji dari proyek terbaru sutradara 50 tahun ini. Yakni kesuksesannya meyakinkan studio untuk mendukungnya membuat film buruk berdurasi dua setengah jam, dengan biaya produksi mencapai US$225 juta, dan hampir pasti tidak akan balik modal gara-gara pandemi (dan mungkin saja tetap tekor di situasi normal).

Seperti kemampuannya mengelabui ekspektasi penonton di film-filmnya, Nolan juga pandai mengelabui para eksekutif Hollywood. Itu talenta terbesar Nolan yang harus kita akui dan apresiasi.