Home Uncategorized Suaramu Mengusik Jiwaku: Pengakuan Perempuan Pengidap Misophonia

Suaramu Mengusik Jiwaku: Pengakuan Perempuan Pengidap Misophonia

112
0

Tak ada satu pun dari kita yang suka mendengar suara orang mengecap makanan, atau menyedot ingus keras-keras. Tapi bagi penderita kondisi langka “misophonia”, suara-suara yang dianggap sepele oleh kebanyakan orang bisa menyiksa diri mereka. Hanya enam persen populasi yang merasakan kebencian ekstrem ini. 

Yaell, 24 tahun, sangat sensitif dan terganggu dengan suara orang mengunyah sejak dia masih lima tahun. Dia tiba-tiba mengamuk di depan ibunya yang sedang makan roti lapis. VICE bertanya kepada perempuan Belgia ini, bagaimana rasanya hidup dengan misophonia dan apakah dia mencari bantuan profesional untuk mengatasi kondisinya.

VICE: Sejak kapan kamu sadar kalau kamu mengalami misophonia?

Yaell: Menurut orang tua, saya mulai bereaksi buruk terhadap suara tertentu dari usia lima tahun. Suatu pagi, saya membentak ibu sebelum berangkat sekolah. Saya benci mendengar ibu mengunyah roti lapis. Setelah puas berteriak, saya meninju tembok dan mengurung diri di kamar. 

Kondisinya semakin parah sejak saat itu. Saya akan memarahi orang, membanting barang atau malas makan kalau sudah kesal mendengar suara. Ayah ibu bingung kenapa saya bisa begitu. Mereka sempat mengira saya autis, tapi hasil tes tidak menunjukkan ada yang salah.

Makanan apa yang menghasilkan suara terburuk?

Saya pribadi suka makan keripik, tapi tidak suka saat orang lain memakannya. Suara keripik berisik banget. Saya juga jijik mendengar orang mengunyah popcorn. Begitu pula orang-orang yang menyeruput kuah atau minuman. Saya yakin mereka dikirim dari neraka untuk menyiksaku.

Seperti apa reaksimu sekarang ketika ada yang mengecap makanan?

Saya pasti akan marah, tapi tidak sampai melempar barang seperti dulu. Rasanya kayak mendengar suara alarm kebakaran di dalam kepala. Saya ingin buru-buru kabur dari tempat itu.

Kalau saya kenal orang yang mengunyah keras-keras, saya akan memberi tahu suaranya membuatku terganggu. Saya akan diam saja kalau tidak kenal. Tidak sopan mengeluhkan cara makan orang lain.

Apakah kamu membenci suara kunyahanmu sendiri?

Tidak terlalu, tapi saya tidak suka kalau tiba-tiba keluar bunyi gemeretak pada rahang. Saya pasti berhenti makan.

Pernahkah kamu terpikir buat terapi?

Tidak pernah. Saya tidak mau terlalu memusingkan kondisi misophonia ini. Siapa tahu saja suatu saat nanti, saya tak lagi terganggu dengan suara orang mengunyah.

Apakah suaranya hanya berlaku pada manusia, atau hewan juga?

Saya jijik dengan suara anjing menjilati alat kelaminnya.

Adakah tempat yang kamu hindari, seperti restoran misalnya?

Kayaknya akan sulit untuk tidak pergi ke restoran sama sekali, tapi memang ada yang memberikan pengalaman buruk. Saya tidak akan pernah lagi makan di restoran iga yang pernah saya datangi bersama mantan dan orang tua. Saya paham pengunjung tanpa sadar melakukannya, tapi suara mereka melahap tulang. Emosi naik sampai ke ubun-ubun.

Apa yang kamu lakukan untuk mengatasi kondisi ini?

Seiring bertambahnya usia, saya belajar “mematikan” mentalku ketika situasi berubah buruk. Seolah-olah seperti membangun tembok mental yang menghalangi diriku dari orang lain.

Apa ada suara lain yang bikin kamu jijik?

Saya tidak tahan mendengar kuku menggaruk papan kapur. Selain itu, saat masih kecil dulu, saya paling tidak suka dengan suara gesekan handuk di telinga ketika orang tua mengeringkan badanku. Saya juga benci suara gesekan piyama satin dan celana korduroi. Untungnya, saya sudah terbiasa dengan suara-suara itu sekarang.

Apakah kamu terganggu dengan seks oral?

Sejujurnya, sih… iya, apalagi saat one night stand. Tapi kalau seks biasa, saya cenderung fokus pada detail-detail kecil di sekitarku. Saya tentu masih bisa menikmati ketika cowok berusaha membuatku orgasme, tapi jangan terlalu intens. Lain ceritanya saat jatuh cinta. Saya tidak hanya fokus dengan seks saja, tapi juga dengan emosi yang saya rasakan saat itu.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Netherlands.