Home News Tenaga Medis Jadi Pelanduk Mati di Tengah Saat Pemerintah Menormalisasi Pandemi

Tenaga Medis Jadi Pelanduk Mati di Tengah Saat Pemerintah Menormalisasi Pandemi

151
0
tenaga-medis-jadi-pelanduk-mati-di-tengah-saat-pemerintah-menormalisasi-pandemi

Sepanjang sejarah republik ini, 2020 layak dinobatkan sebagai tahun paling berbahaya bagi pekerja medis Indonesia. Pandemi telah menjadi ancaman nyata bagi tenaga kesehatan yang berjuang di garis depan.

Pungki Stephani, perawat yang bertugas di Unit Ambulans Gawat Darurat Dinas Kesehatan DKI Jakarta, merasakan sendiri kengerian itu. Dia secara harfiah mempertaruhkan nyawa menghadapi penularan Covid-19 di Tanah Air yang tak kunjung berhasil diredam, meski dalam hatinya terbersit keraguan.

“Kalau ditanya takut sih udah pasti takut,” kata Pungki kepada VICE. “Saat diminta gabung tim khusus Covid-19, sampai kayak ragu-ragu mau nolak tapi nama saya udah ada di surat tugas, terus mau ngejalanin tuh kayak masih berat hati gitu.”

Kekhawatiran Pungki beralasan. Di seluruh wilayah Indonesia, jumlah tenaga medis yang gugur, dari dokter hingga perawat, terus meningkat. Ikatan Dokter Indonesia (IDI) memperkirakan bila enam dari 100 kematian akibat Covid-19 negara ini memakan korban tenaga medis.

Angka itu bahkan bisa jadi belum menggambarkan kondisi sebenarnya di lapangan, mengingat Kementerian Kesehatan berulang kali gagal menyajikan data akurat, bahkan terindikasi enggan membukanya secara transparan. Sikap ragu-ragu pemerintah pusat membuat masyarakat makin tidak mempercayai semua statistik terkait penanganan pandemi, atau takut pada stigma, sampai mengabaikan protokol kesehatan.

Ketika pemerintah tak kunjung transparan, dan masyarakat termakan isu konspirasi lalu berani mengabaikan prosedur pencegahan Covid-19, tenaga medis lah yang jadi pelanduk mati di tengah-tengah. Pungki di tengah kekalutan pribadi, sekarang hanya bisa sekuat tenaga menjalankan tugasnya.

“Pas dengar berita satu perawat meninggal karena Covid-19, itu rasanya ‘ya Allah perawat kena lagi… next siapa ya, aku bakal kena enggak ya?’” kata Pungki. “Kalau udah ngerasa badan enggak enak tuh kayak mikir ‘[ini] gejala Covid ga?’ Misalkan sampai kena, aku mikirinnya keluarga. Kalau sampai aku pulang, terus maparin [virus] ke orang-orang di rumah, itu yang bakal bikin enggak bisa memaafkan diri sendiri deh.”

Kondisi Indonesia sekarang, yang jumlah kasus positif coronanya telah melampaui Tiongkok, mengikuti nasib negara-negara lain yang meremehkan pandemi ini di masa-masa awal penularan. Amerika Serikat serta Brasil, yang pemimpinnya tak serius mempersiapkan kebijakan penanganan pandemi, kini harus membayar mahal angka penularan yang tak kunjung mereda.

Indonesia setali tiga uang. Di masa Januari hingga awal Maret, pejabat pemerintah pusat lebih sering berkelakar soal Covid-19. Menteri Kesehatan secara gamblang menyepelekan pandemi, lalu tempo hari, menteri pertanian justru ikut campur yang bukan bidangnya, dengan mempromosikan kalung anticorona berbahan kayu putih dari riset yang belum matang.

Dengan berbagai kegagapan tersebut, pemerintah pusat separuh mendesak semua daerah memikirkan opsi normalisasi aktivitas masyarakat, setelah sebelumnya mempromosikan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Niatnya adalah memulihkan perekonomian. Sebulan selepas transisi PSSB diberlakukan, kasus penularan Covid-19 justru meningkat. Dari awalnya rata-rata 600-700 kasus positif per hari, jadi melonjak hingga sempat mencatatkan rekor 2.657 kasus per hari.

DKI Jakarta, yang menjalankan transisi PSBB sejak akhir Juni, turut mengalami lonjakan kasus. Lagi-lagi, beban yang menanggung pertama adalah pekerja medis seperti Pungki. Hanya ada satu unit ambulans gawat darurat di ibu kota, didukung lima mobil saja. Mereka semua saban hari harus menjemput pasien-pasien terduga positif Covid-19 ke rumah sakit. Tentu saja, petugas di garis depan kewalahan.

“Kadang kalau kami jemput pasien dari rumah, lalu kami bawa ke rumah sakit, ternyata di RS sudah penuh juga,” kata Iwan Kurniawan, Kepala Unit AGD DKI Jakarta, kepada VICE.

Unit ambulans di masa normal pun sudah minim anggaran dan fasilitas. Maka, pandemi ini betul-betul menguji mereka yang bertugas di unit tersebut sampai ke titik paling ekstrem.

“Sebenarnya sih panggilan itu lebih dari 15 [per hari]. Cuma karena tertahan, terbatas sama unit, terbatas sama petugas paling kita maksimal 15 kali bawa pasien sehari,” kata Pungki. “Sebenarnya sudah kewalahan banget Jakarta dengan kasus Covid-19 ini. Cuma ya mikir lagi kalau bukan kita yang nanganin siapa lagi.”

Saksikan dokumenter VICE merekam pergulatan tenaga medis Jakarta di unit ambulans gawat darurat, lewat tautan di awal artikel.