Home Uncategorized Tips Ngobrol Sama Saudara atau Ortu yang Ogah Pakai Masker dan Gak...

Tips Ngobrol Sama Saudara atau Ortu yang Ogah Pakai Masker dan Gak Percaya Covid-19

152
0
tips-ngobrol-sama-saudara-atau-ortu-yang-ogah-pakai-masker-dan-gak-percaya-covid-19

Hari Natal selalu dinantikan dengan penuh suka cita. Bagi yang merayakan, mereka tak sabar ingin berkumpul bersama keluarga atau menghabiskan waktu dengan orang-orang terkasih. Tapi namanya juga hidup, selalu ada saudara yang ngeselin dan merusak suasana, entah karena sifatnya atau pemikirannya yang tidak bisa digambarkan oleh kata-kata. Mereka mungkin pendukung fanatik yang merasa pemerintah telah melakukan segalanya untuk membantu rakyat, atau anti-vaksin karena tidak sesuai dengan ajaran agama.

Lalu, apa yang sebaiknya kalian lakukan jika ada yang melontarkan teori konspirasi saat kumpul keluarga? Berikut saran dari pakar untuk meredam situasi yang mulai memanas ketika saudara tak kunjung berhenti dengan omong kosongnya.

TARIK NAPAS PANJANG DAN PIKIRKAN TIGA HAL INI BAIK-BAIK

Apakah kalian membantah omongannya karena ingin merasa paling pintar?

Jika ya, sayang sekali cara kalian tidak akan berhasil. “Kadang-kadang kita merasa harus ikut berkomentar karena tahu teori konspirasinya palsu. Tapi sebenarnya kalian melakukan itu hanya untuk kepentingan pribadi, kan?” terang Dr John Grohol, psikolog dan pendiri situs Psych Central.

Apakah konspirasinya membahayakan hidup mereka?

“Ibuku gaptek dan tidak memahami sains. Dia tidak percaya kalau orang Amerika pernah mendarat di Bulan… [Tapi] kepercayaan ini tidak berarti apa-apa bagi hidupnya. Obrolan memang jadi canggung ketika dia membahasnya, tapi ya sudah… gitu saja,” Grohol menambahkan.

Pada dasarnya, sejumlah orang akan membuka pembicaraan dengan teori konspirasi karena tidak tahu mau bahas apa.

Apakah ada yang salah dengan kesehatan mentalnya?

“Penelitian menunjukkan orang lebih mudah percaya teori konspirasi ketika kebutuhan psikologisnya tidak terpenuhi,” tutur Karen Douglas, guru besar psikologi sosial di Universitas Kent. “Orang membutuhkan pengetahuan dan kepastian untuk merasa aman, serta merasa nyaman dengan diri mereka sendiri dan kelompoknya. Ketika kebutuhan penting ini tidak terpenuhi, teori konspirasi menjadi sesuatu yang menarik.”

Kalian merasa ada saudara yang suka baca konspirasi? Coba tanyakan kabarnya dan pastikan dia baik-baik saja. Cari tahu kenapa dia bisa seperti itu sekarang.

BERIKUT INI YANG BISA KALIAN LAKUKAN KEPADA SAUDARA YANG PERCAYA KONSPIRASI

Tetap netral dan menunjukkan rasa keingintahuan

Kalian mungkin sudah tidak tahan mendebat atau mengolok-olok saudara yang percaya COVID-19 adalah senjata biologis, tapi ingat bahwa bersikap netral adalah cara terbaik membuka pikirannya. “Mereka hanya akan semakin berpegang teguh dengan pendiriannya jika kalian bersikap merendahkan,” Stefan Walters, terapis sistemik yang bergabung dengan British Association of Counselling and Psychotherapy, menjelaskan. “Tetaplah netral dan menunjukkan rasa ingin tahu sebisa mungkin.”

“Anggap pandangan mereka layaknya keyakinan agama. Kalian pasti tidak mau menghina keyakinan agama seseorang. Bagi sebagian orang, mereka menganut teori konspirasi bagaikan agama. Kalian harus tetap menghargai mereka, meski tidak setuju dengan keyakinannya,” imbuh Grohol.

Tanyakan mereka tahu dari mana

Kalian bisa meminta sumber dan memastikan kredibilitasnya. Grohol menyampaikan orang terkadang tidak menyadari informasi yang mereka terima tidak berdasar fakta. “Tetaplah berpikiran terbuka ketika berbicara dengan penganut konspirasi. Orang sering kali tidak tahu bahwa informasi yang tersebar di internet ada tingkat kualitasnya sendiri.”

Dia lebih lanjut menganjurkan kalian untuk memahami apakah situsnya beneran situs berita resmi atau hanya menerbitkan berita-berita tak masuk akal dan kontroversial demi engagement. “Begitulah situs web meraup keuntungan. Kebanyakan orang tidak mengerti cara situs mencari keuntungan,” ujarnya.

Bertanya itu penting

Kalian dan orang yang percaya teori konspirasi sama-sama suka menanyakan segala kebenaran di dunia ini. Kalian bisa mengapresiasi satu sama lain atas pemikiran kritis.

“Banyak penganut konspirasi yang yakin mereka adalah pemikir kritis, sedangkan lainnya tidak,” Douglas mengutarakan. “Oleh karena itu, kalian bisa meminta mereka memikirkan informasi yang diterima secara kritis.”

Psikolog sosial Dr. Daniel Jolley menyarankan untuk “memahami motivasi dan alasan seseorang memercayai sesuatu. Diskusinya bisa saja didasarkan pada kesamaan. Kita semua sepakat bertanya itu penting, dan kita semua memang perlu menanyakan tentang vaksin. Ini menjadi problematis ketika orang tidak mau memercayai bukti, dan mereka memiliki kecurigaan berlebihan terhadap penjelasan resmi apa pun.”

Segera alihkan pembicaraan

Memperdebatkan keyakinan bukanlah hal yang mudah diselesaikan dan sulit dibicarakan dengan kepala dingin. Jika mereka masih ngotot dengan kepercayaannya, Walters mengusulkan agar kalian “mengalihkan pembicaraan ke topik emosional lain yang bisa kalian sepakati.”

Saudara terus berkoar? Selamatkan dirimu sendiri dan hindarkan konflik!

Kalau semua cara sudah dilakukan tapi tidak bisa menghentikan omong-kosong mereka, mungkin ini waktunya kalian cari tempat perlindungan. Singkirkan dirimu sejauh mungkin dari perdebatan. Kalian bisa pura-pura boker atau membantu nenek menyiapkan makanan.

@rossy