Home Uncategorized Trailer Film Animasi ‘Nussa’ Picu Polemik Basi: Mengkritik Film yang Belum Ditonton

Trailer Film Animasi ‘Nussa’ Picu Polemik Basi: Mengkritik Film yang Belum Ditonton

114
0
trailer-film-animasi-‘nussa’-picu-polemik-basi:-mengkritik-film-yang-belum-ditonton

Seminggu lebih sejak episode terakhir serial kartun Nussa mengudara di YouTube, rumah produksi Visinema Pictures merilis trailer film Nussa pada Minggu (10/1)Meski jadwal penayangan di bioskop masih menanti perkembangan pandemi, film ini sudah mendapat perhatian luas khalayak sebab, pertama, film ini dianggap membawa angin segar untuk dunia animasi Indonesia, kedua, perdebatan lama mengenai simbol-simbol dalam film ramai lagi di media sosial. 

Terbaru, keributan paling riuh disulut Denny Siregar, influencer media sosial yang bersahabat dengan pernyataan problematis.

Denny menuding film Nussa dibuat dengan campur tangan Felix Siauw (mungkin gara-gara ngeliat postingan Felix yang ini), pemuka agama yang juga anggota ormas Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Doi menyorot cara berpakaian Nussa bermodel “gurun pasir”, alias kearab-araban, sembari menilai muslim Indonesia itu ya sarungan.

Merespons tudingan Denny yang ramai memicu respons netizen, produser eksekutif film Nussa Angga Sasongko membantah dan memberikan penjelasan. Angga mengatakan, proses kreatif dan produksi film ini enggak melibatkan pemuka agama mana pun, apalagi mendukung agenda dan propaganda tertentu.

Opini publik terbagi dua, mendukung masing-masing pandangan. Polarisasi sudah banyak bisa kita temui khususnya di Twitter. Namun, pada kesempatan ini mari luangkan waktu sejenak untuk mengapresiasi warganet yang melihat celah komedi dari keributan dan memutuskan menyuguhkan konten lawak:

Sebelum dibuatkan film panjang, Nussa hadir sejak 2018 lewat serial kartun di kanal YouTube Nussa Official. Sampai hari ini, Nussa Official punya 6,9 juta pengikut dan total ditonton 1,5 miliar kali. Serial terakhirnya diunggah 1 Januari lalu dan digadang sebagai episode terakhir akibat proses produksi yang terhambat pandemi. Film layar lebar turut mengalami penundaan, sebelumnya ditargetkan tayang pada hari Lebaran 2020.

Sejak lama Nussa emang udah pernah jadi bahan debat publik. “Keributan” yang lebih berbobot pernah dihadirkan situs media Islami.co pada Mei tahun lalu. Tulisan beradu narasi disampaikan oleh Supriansyah (penggiat isu kedamaian Kindai Institute), Elam Sanurihim Ayatuna (pemerhati pendidikan anak), dan Sarjoko S. (pegiat Islami Institute).

Tulisan Supriansyah menilai Nussa kerap menampilkan Islam kaku (dicontohkan dengan menolak jabat tangan dengan orang asing) dan mengabaikan keragaman hukum fikih. Narasi kebangsaan yang beragam juga dianggap sangat minim di serial tersebut, sehingga dikhawatirkan membuat Islam yang dipelajari anak-anak jadi dangkal. Ia turut menyinggung perihal gaya berpakaian tokoh yang terlampau “formal”, namun tidak disinggung lebih dalam.

Elam lantas membantah argumen Supriansyah, menilai bahwa vonis kaku malah menunjukkan kekakuan keberislaman penulis. Elam merasa kepercayaan Nussa untuk tidak bersalaman dengan orang asing seharusnya dipahami sebagai salah satu keyakinan fikih saja tanpa memberi label apa pun. Soal pakaian, Elam menganggap setiap kartun punya ciri khas baju tersendiri, begitu pun Nussa. Kualitas serial Nussa yang memberikan suguhan tontonan anak yang baik di tengah-tengah bobroknya kualitas tayangan televisi dirasakan Elam sebagai orang tua. 

Sementara Sarjoko menengahi adu argumen dengan mengatakan kedua narasi sama baiknya, sembari mengapresiasi bagaimana pertarungan wacana ini disampaikan dengan cara yang baik.

Polemik persepsi pesan dalam film emang lazim terjadi. Namanya karya seni, ya wajar-wajar saja kalau banyak cara untuk menangkap maksudnya. Tahun lalu, kita pernah menikmati diskusi panas seputar stereotip perempuan, khususnya di desa, setelah film pendek Tilik (2018) meledak sesudah rilis gratis.

Film pendek terbaik Piala Maya 2018 tersebut mendapat pujian atas kualitas akting dan alur cerita relatable, tapi juga dikritik karena menguatkan label perempuan sebagai tukang gosip. Ya jangankan Nussa dan Tilik, Rumah produksi film raksasa macam Disney saja kena backlash dari Raya and the Last Dragon dan Mulan.