Home Uncategorized Transpuan Kristen di Pakistan Akhirnya Bisa ke Gereja Lagi

Transpuan Kristen di Pakistan Akhirnya Bisa ke Gereja Lagi

130
0
transpuan-kristen-di-pakistan-akhirnya-bisa-ke-gereja-lagi

Selama bertahun-tahun, komunitas transgender beragama Kristen di Pakistan tidak bisa beribadah di gereja. Sonia memeluk keyakinan bahwa Yesus juru selamat, tapi hidup bagaikan orang Muslim seperti teman-teman transpuan di tempat tinggalnya. “Saya merayakan Idul Fitri, bukan Natal atau Paskah,” katanya kepada VICE World News. “Hidup saya jauh lebih aman.”

Kedua orang tua Sonia mengirimnya ke kampung transgender ketika dia baru 13 tahun. Praktik semacam ini biasanya dilakukan oleh keluarga yang tidak mau menerima identitas anak mereka apa adanya.

Sonia berbaur dengan komunitas transpuan yang mayoritas Muslim, tapi jauh di dalam hatinya, dia sangat merindukan kebiasaan orang Kristen. “Keluargaku sering menghias pohon Natal dengan lampu dan bola warna-warni. Saya dulu bergabung dengan kelompok paduan suara gereja. Anak-anak yang ikut sekolah minggu akan dapat hadiah, biasanya permen,” kenangnya.

Semua aktivitas itu kini tak hanya tinggal kenangan. Sonia bisa kembali bernyanyi lagu pujian karena sudah menjadi anggota gereja transgender pertama di Pakistan.

“Saya berhenti datang ke gereja karena mengalami penghinaan,” ungkap  Guriya, transpuan berusia 29. “Kami berpakaian perempuan, tapi dipaksa duduk di bagian laki-laki.”

Guriya tak perlu lagi takut dicemooh ketika mendatangi gereja. Didirikan oleh pendeta perempuan Ghazala Shafique, First Church of Eunuch mulai menyambut transpuan kristen di Karachi sejak musim gugur lalu. Gereja itu diharapkan bisa menjadi ruang aman bagi mereka.

Setiap Jumat sore, Guriya berdoa, membaca alkitab dan menyanyikan lagu rohani bersama 30 Hijra—sebutan transpuan di Pakistan—lainnya. Dia merasa terhubung dengan Tuhan di antara orang-orang yang menerima kehadirannya.

Jemaah transgender beribadah di First Church of Eunuchs.

Jemaah transgender beribadah di First Church of Eunuchs.

Shafique membuka cabang gereja di Lahore, kota terbesar kedua di Pakistan, pada Januari. Sonia merupakan anggota gereja ini. Sang pendeta membuka cabang lain di kota Quetta, provinsi Balochistan.

“Banyak anggota kami yang baru pertama kali berpartisipasi dalam ritual sakral ini,” tutur Shafique saat membicarakan tentang Paskah dan Jumat Agung.

Pakistan mengakui transgender sebagai gender ketiga sejak 2009, dan mengesahkan salah satu undang-undang transgender paling progresif di dunia pada 2018. Warga negara berhak menentukan identitas mereka sebagai lelaki, perempuan atau keduanya. Mirisnya, Pakistan tetap menegakkan hukum kolonial yang mengkriminalisasi sodomi dengan hukuman penjara seumur hidup. Alhasil, komunitas transgender rentan menjadi korban kekerasan polisi dan kejahatan berbasis kebencian.

Berdasarkan laporan Human Rights Watch 2021, kelompok minoritas agama dan transgender di Pakistan terus mengalami kekerasan, diskriminasi dan penganiayaan. Pihak berwajib gagal memberikan perlindungan kepada mereka, atau menghukum pelaku seadil-adilnya. April lalu, remaja transgender berusia 15 tewas usai diperkosa di kota Faisalabad.

Pendeta Ghazala Shafique membaca alkitab berbahasa Urdu di gereja Karachi.

Pendeta Ghazala Shafique membaca alkitab berbahasa Urdu di gereja Karachi.

Tahun lalu, Shafique—yang suaminya juga seorang pendeta—bekerja sama dengan komunitas transgender Muslim dan Kristen untuk memberi bantuan COVID-19. Mereka membicarakan tentang komunitas transgender yang mendapat perlindungan dari tempat suci Muslim, tapi malah diusir dari gereja.

Shafique mengalami sendiri kejadian serupa. Dia pernah mengajak temannya yang seorang transgender ke gereja, tapi petugas gereja menghina temannya “tidak suci”.

Shafique awalnya memulai kelompok baca alkitab untuk warga transgender, yang kemudian berkembang jadi gereja di halaman belakang rumahnya. “Tetangga dan kerabat sering bertanya kenapa kami mengundang orang transgender,” Shafique memberi tahu VICE World News.

First Church of Eunuchs menyiarkan kegiatan gereja secara langsung di Facebook. Pendeta Shafique menjelaskan sengaja pakai istilah “eunuch” atau orang kasim karena disebut dalam alkitab.

Dua orang transpuan berdoa di First Church of Eunuch yang ada di Karachi.

Dua orang transpuan berdoa di First Church of Eunuch yang ada di Karachi.

Sejumlah pihak berpendapat tempat terpisah seperti gereja khusus transgender ini hanya akan membuat kelompok transgender semakin terpinggirkan. “Kami bukan hewan di kebun binatang yang perlu dipisahkan,” kata Bindiya Rana, aktivis transgender di Karachi. “Kami ingin diperlakukan adil agar anak-anak kami bisa bersekolah dengan anak-anak lainnya. Jika perempuan miskin atau janda saja mendapat kesempatan, maka kelompok transgender layak memperoleh kesempatan itu juga. Tidak ada manfaatnya memisah-misahkan kami.”

Follow Naila Inayat di Twitter.