Home Uncategorized Aturan Absurd di Sekolah Jepang: Rambut Murid Perempuan Dilarang Dikuncir Kuda

Aturan Absurd di Sekolah Jepang: Rambut Murid Perempuan Dilarang Dikuncir Kuda

71
0
aturan-absurd-di-sekolah-jepang:-rambut-murid-perempuan-dilarang-dikuncir-kuda

Sistem pendidikan Jepang terkenal akan aturan penggunaan seragam yang ketat. Panjang kaus kaki tidak boleh kurang dari yang telah ditentukan. Rambut siswi wajib lurus dan berwarna hitam. Semuanya harus benar-benar seragam agar memberi kesan rapi.

Namun, aturan semacam ini tak jarang menimbulkan pro-kontra. Banyak yang menganggapnya absurd, dan alasan peraturan tersebut diberlakukan terkadang tidak masuk akal.

Belasan tahun mengabdi sebagai guru, Motoki Sugiyama telah menyaksikan langsung betapa anehnya peraturan-peraturan yang berlaku di tempatnya mengajar dulu. Dari lima sekolah di prefektur Shizuoka, berjarak 144 kilometer arah barat daya Tokyo, semuanya tidak mengizinkan siswi mengikat rambut gaya kuncir kuda. Alasannya? Karena khawatir leher para murid “mengundang” syahwat.

“Pihak sekolah khawatir murid laki-laki tidak bisa berhenti ngeliatin perempuan. Alasannya mirip aturan pakaian dalam berwarna putih,” terangnya kepada VICE World News. Di Jepang, murid perempuan dilarang mengenakan pakaian dalam putih agar tidak terawang dan mencegah hal yang tidak-tidak.

“Saya selalu mengkritik peraturan ini, tapi kewajiban semacam ini sudah lama dianggap normal [di Jepang], sehingga pelajar hanya bisa mematuhinya,” Sugiyama melanjutkan.

Tidak ada data statistik yang menunjukkan berapa banyak sekolah di seluruh Jepang yang masih menerapkan larangan gaya rambut kuncir kuda. Akan tetapi, survei tahun 2020 menemukan satu dari 10 sekolah di prefektur Fukuoka belum mencabut peraturan tersebut.

Sugiyama kini berambisi mengekspos semua peraturan yang tidak masuk akal. Mantan guru SMP itu lantang menyuarakan pencabutan aturan yang sudah kuno, seksis dan membatasi kebebasan berekspresi anak.

Juni lalu, pemerintah memerintahkan seluruh lembaga pendidikan di Jepang untuk merevisi aturan mereka. Tindakan ini dilakukan menyusul reaksi keras dari pelajar dan orang tua murid. Beberapa institusi memperbaiki aturannya, tapi sayangnya sulit sekali mengakhiri praktik yang telah berlangsung puluhan tahun.

Lebih dikenal dengan sebutan buraku kousoku, peraturan-peraturan ini tidak berakhir pada gaya rambut, warna pakaian dalam dan ukuran kaus kaki saja. Banyak sekolah menentukan panjang rok dan bentuk alis yang dapat diterima. Peserta didik juga wajib menunjukkan bukti berupa foto bahwa rambut alami mereka memang tidak hitam dan lurus.

Menariknya, sekolah suka kurang konsisten dalam menerapkan peraturan. Gaya rambut kuncir kuda dilarang karena menunjukkan leher, tapi gaya rambut bob tidak menjadi masalah. Meski harus diakui, ada kalanya aturan dibuat untuk mencegah efek domino dari gaya rambut aneh. Selain kuncir kuda, murid tidak boleh memamerkan gaya undercut—bagian depan rambut lebih panjang daripada bagian bawah dan samping—di sekolah. 

“Kalau gaya rambut undercut diperbolehkan, murid-murid akan berpikir gaya mohawk juga boleh,” tutur Sugiyama.

Buraku kousoku sudah ada sejak 1870-an, ketika pemerintah Jepang menetapkan peraturan pendidikan sistematis pertamanya. Aturan tersebut menjadi semakin membatasi pada era 1970-an dan 80-an, dengan alasan mencegah perundungan dan kekerasan di sekolah.

Larangannya sendiri berubah-ubah seiring berjalannya waktu. Tapi tetap saja, tujuan utamanya untuk memastikan tidak ada siswa yang terlihat lebih menonjol, menurut Asao Naito, associate professor jurusan sosiologi Universitas Meiji.

Naito masih ingat betul larangan rok panjang yang berlaku sekitar 40 tahun lalu. Kala itu, rok panjang lebih sering dipakai sukeban alias “gadis nakal”, sehingga sekolah memperpendek rok seragam. “Tapi sekarang, sekolah melarang rok pendek,” ujarnya.

Sugiyama mengatakan, pelajar sering mengeluh tentang sekolah mereka yang tak kunjung mengikuti arahan pemerintah untuk mengubah aturan seragam. “Banyak sekolah mengabaikan imbauan yang tidak mengikat secara hukum atau tidak memiliki hukuman,” ungkapnya.

Walaupun begitu, tak semua sekolah menganggapnya angin lalu.

Juru bicara SMP Hosoyamada di prefektur selatan Kagoshima memberi tahu VICE World News, mereka telah memperbaiki aturan seragamnya tahun lalu. Sekolah itu memang masih melarang gaya rambut kuncir kuda, tapi setidaknya murid perempuan tak lagi diwajibkan mengenakan pakaian dalam putih. Sekarang mereka bisa memilih warna abu-abu, hitam atau biru dongker.

Follow Hanako Montgomery di Twitter dan Instagram.