Home Uncategorized Beli Ganja Malah Dapat Seledri, Lelaki di Palembang dengan Polosnya Lapor Polisi

Beli Ganja Malah Dapat Seledri, Lelaki di Palembang dengan Polosnya Lapor Polisi

71
0
beli-ganja-malah-dapat-seledri,-lelaki-di-palembang-dengan-polosnya-lapor-polisi

Sebuah video viral pada 29 Maret 2022, menampilkan seorang lelaki berjaket hijau yang melapor ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polrestabes Palembang, Sumatra Selatan. Dia mengaku jadi korban penipuan. Masalahnya, perkara yang dia laporkan adalah pembelian paket ganja namun isinya hanya daun seledri.

Alhasil, polisi yang bertugas sampai bingung sendiri harus merespons seperti apa atas laporan lelaki yang mengaku bekerja sebagai tukang ojek tersebut. Dalam cuplikan video dilansir Tribunnews yang pertama kali tayang diunggah akun Instagram @Palembang_Bedesau, lelaki itu tanpa ragu menampilkan bungkusan koran. Di dalamnya terdampat daun seperti gabungan seledri dan rumput. Polisi yang bertugas kemudian merekam pengakuan sang pengemudi ojek.

“Kami kasih duit beli [ganja] Rp50 ribu pak. Kami ni ngojek pak,” ungkap lelaki itu dalam cuplikan video. “[Isinya hanya] daun pak.”

Salah satu petugas dalam rekaman yang sama lantas menanyakan maksud kedatangannya ke kantor polisi. “Melapor kami pak, ditipu beli ganja,” tandasnya.

Salah satu petugas lantas mengingatkan pada lelaki yang tidak diungkap identitasnya tersebut, bahwa ganja saat ini masih termasuk narkotika golongan satu dalam UU Narkotika. Alhasil, tindakannya melapor justru bisa membuatnya berurusan dengan hukum.

Sembari tersenyum, lelaki itu pun menjawab kalau dia tidak pernah berurusan dengan ganja sebelumnya. “Baru pertamo inilah Pak [baru pertama kali coba membeli],” ujarnya.

Video itu membuat netizen salut, mengingat si tukang ojek seakan dengan berani masuk ke kandang singa melaporkan penipuan ganja. “Benar2 berani bapaknya…. Gak tanggung2 bikin laporannya di Polrestabes,” tulis salah satu akun Instagram saat mengomentari video tersebut.

Saat dikonfirmasi CNN Indonesia, Kasat Narkoba Polrestabes Palembang Kompol Mario Invanry membenarkan ada lelaki yang datang melapor ke kantornya karena tertipu membeli paket ganja namun ternyata isinya seledri. Laporan itu masuk pada 28 Maret lalu.

Kompol Mario menyatakan lelaki tersebut tidak jadi diproses pidana, meski dengan polos mengaku berniat membeli ganja. “Setelah kita selidiki, ternyata dia itu stres [ada gangguan jiwa],” ujarnya.

Terlepas dari kasus unik di Palembang ini, peredaran ganja palsu beberapa kali terjadi di Indonesia. Kasus macam itu jelas membuat aparat serba salah, karena kalau pun hendak dikenakan pasal penipuan, maka harus ada korban pembeli ganja yang melaporkan kerugian.

Pada Juni 2016, Badan Narkotika Nasional (BNN) sempat menangkap seorang pengedar di Sukabumi yang ternyata menjual ganja abal-abal. Awalnya pelaku yang berinisial EA dipantau petugas karena ada laporan menjajakan ganja kering siap isap.

Dua bungkus daun kering yang disimpan EA di jok motornya lantas dikirim ke laboratorium BNN pusat. Hasilnya ternyata mengejutkan. “Daun kering yang disita petugas dari tangan pengedar itu ternyata bukan daun ganja. Diduga daun yang akan diedarkan EA daun ganja palsu,” kata Kepala BNN Kabupaten Sukabumi, Dani Yus Daniel, saat dikonfirmasi Pikiran Rakyat.

Penjualan ganja palsu juga pernah diungkap aparat di Bali pada 2009. Ketika diperiksa di laboratorium, ganja kering yang diedarkan tiga lelaki di kawasan Denpasar itu hanyalah olahan daun gumitir. Polisi menyatakan para pelaku berniat mengibuli turis-turis asing yang tertarik ingin mengisap ganja saat liburan.

Namun, penipuan narkoba abal-abal paling epic tentu saja yang terjadi di Kota Medan pada 24 Januari lalu. Jajaran intel Polda Sumatra Utara (Sumut) tertipu dua lelaki yang mengaku jual sabu, padahal setelah diperiksa barbuk seberat tiga kilogram itu cuma garam. DZ dan SWP, inisial para pelaku, ternyata bukan pengedar narkoba, melainkan penipu. Keduanya sudah tiga kali melakukan penipuan dengan menjual garam dan gula kepada pengguna sabu di Kota Medan. Per gram dibanderol Rp500-700 ribu. Ketiganya baru empat kali beraksi, dilandasi murni motif ekonomi. Viralnya berita itu membuat polisi menjadi bulan-bulanan netizen