Home Uncategorized India Alami Krisis Diplomatik dan Boikot Akibat Politikusnya Hina Nabi Muhammad

India Alami Krisis Diplomatik dan Boikot Akibat Politikusnya Hina Nabi Muhammad

30
0
india-alami-krisis-diplomatik-dan-boikot-akibat-politikusnya-hina-nabi-muhammad

Kerusuhan pecah di India setelah juru bicara Partai Bharatiya Janata (BJP), Nupur Sharma, melontarkan komentar yang menghina Nabi Muhammad dalam sebuah acara televisi. Beberapa umat Islam di negara tersebut bahkan mencoba melaporkannya ke polisi karena penistaan agama. Ucapan Sharma memicu naiknya tagar #BoycottIndia di negara-negara mayoritas muslim. BJP adalah partai yang saat ini menguasai parlemen di India.

Situasi menegangkan selama 10 hari terakhir diperkeruh oleh twit rekan politikus Naveen Kumar Jindal, yang diduga juga menghina Rasulullah SAW.

Kini, ucapan pejabat tinggi partai nasionalis Hindu yang berkuasa di India menuai kecaman dari sejumlah negara mayoritas Muslim, terutama mitra dagangnya seperti Kuwait, Qatar, Iran dan Arab Saudi. Kementerian luar negeri Qatar telah mengeluarkan pernyataan resmi pada Minggu, yang mendesak pemerintah India “meminta maaf kepada umat Muslim di seluruh dunia”.

Sementara itu, Kuwait memboikot produk India dari supermarket. Mufti Agung Oman juga telah memerintahkan penarikan barang-barang buatan India dari peredaran. Hasil kerja sama dagang India dengan Negara-Negara Teluk bernilai lebih dari $87 miliar (Rp1,2 kuadriliun) sepanjang 2020-2021.

Pernyataan Sharma hanyalah contoh terbaru dari sentimen anti-Muslim yang meningkat di negara tersebut. Walaupun India menyandang predikat negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia, hanya 200 juta warga yang memeluk agama Islam dari total 1,4 miliar populasi — menjadikannya kelompok minoritas.

Para pengamat HAM di India telah berulang kali menyatakan kekhawatiran mereka atas gelombang Islamofobia yang sebagian besar didorong oleh politikus dan kelompok nasionalis Hindu.

Perdana Menteri Narendra Modi diketahui memilih bungkam atas tindakan persekusi yang diterima penduduk Muslim di negaranya. Pekan lalu, Departemen Luar Negeri AS merilis laporan yang merinci kekerasan, pembunuhan dan intimidasi terhadap umat Islam di India, tapi laporan itu segera dibantah oleh pemerintah India.

Menanggapi reaksi keras yang timbul, Sharma dan Jindal dipecat dari posisi mereka masing-masing pada Minggu, tindakan yang disebut media lokal sebagai sanksi terberat pertama yang pernah diberikan partai terhadap para anggotanya. “BJP mengecam keras penghinaan terhadap tokoh agama mana pun,” demikian bunyi pernyataan resmi yang dirilis partai. 

Dalam video yang beredar luas, Sharma terdengar membuat klaim keliru tentang ayat Al-Qur’an. Menurutnya, kitab suci umat Islam mengajarkan Bumi itu datar, dan Nabi Muhammad menikahi anak perempuan berusia enam tahun dan berhubungan badan dengannya begitu usianya beranjak sembilan tahun. Pernyataan Sharma tidak benar. Berbagai sejarawan Islam menyebut Rasulullah SAW menikahi Aisyah, istri termudanya, ketika ia berusia antara 18-21 tahun.

Sharma terkenal rutin mengampanyekan ideologi sayap kanan. Mantan juru bicara BJP itu awalnya berkilah videonya telah diedit, tapi akhirnya meminta maaf atas perkataannya.

Sedikitnya 36 orang diamankan polisi dalam kerusuhan yang meletus di kota Kanpur memprotes komentar Sharma. Sementara lebih dari 1.500 orang diduga menghasut tindakan kekerasan. Dalam upaya untuk melawan balik tekanan dari negara-negara muslim di Arab, sebagian netizen berpaham konservatif berusaha mengajak masyarakat India balas memboikot produk-produk Qatar, salah satunya tidak lagi naik pesawat Qatar Airways.

Follow Pallavi Pundir di Twitter.