Home Uncategorized Jika Tidak Bahagia dengan Pekerjaan yang Dilakoni, Haruskah Saya Resign?

Jika Tidak Bahagia dengan Pekerjaan yang Dilakoni, Haruskah Saya Resign?

296
0
jika-tidak-bahagia-dengan-pekerjaan-yang-dilakoni,-haruskah-saya-resign?

Rubrik ‘Ask VICE’ diperuntukkan bagi para pembaca yang membutuhkan saran VICE untuk menyelesaikan masalah hidup, dari mengatasi cinta yang bertepuk sebelah tangan hingga menghadapi teman kos yang rese.

Curhatan pembaca: Saya agak kurang semangat belakangan ini, padahal seharusnya tidak ada yang perlu saya takuti. Setelah bertahun-tahun bekerja di industri kreatif, saya akhirnya bisa menjadi karyawan permanen. Kesempatan ini sangat langka di sektor pekerjaan tersebut. Saya juga memiliki tempat tinggal dan kehidupan yang layak di kota besar. Hanya saja tahun baru ini tidak berjalan sesuai harapan.

Saya menyambut 2022 dengan semangat positif. Saya optimis semua orang akan divaksin, “roaring 20s” akan bangkit lagi, dan mungkin saya bisa berlibur ke luar negeri untuk menikmati hidup.

Saya bisa saja mewujudkan itu semua, tapi tak ada yang terlaksana. Harapan-harapan saya semuanya sirna. Tak ada lagi yang membuat saya bersemangat. Saya juga takut tahun ini akan sama saja seperti tahun-tahun sebelumnya, tanpa ada perkembangan positif.

Yang lebih berat lagi, saya merasa tidak bahagia dengan pekerjaan. Atasan sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan ada perubahan tahun ini, dan hal itu menurunkan motivasi kerja. Saya bukan satu-satunya yang mengalami masalah ini, yang pada akhirnya berdampak sangat negatif pada lingkungan kerja kami. Menjalani hari-hari terasa begitu berat, dan saya tidak bisa bersantai di hari Minggu karena gelisah besok sudah masuk kerja lagi. Saya butuh semacam perspektif, apa pun yang bisa membantuku melangkah maju — tapi sayangnya tidak ada sama sekali.

Teman-teman menyarankan untuk berhenti kerja dan mencari di tempat lain, tapi kenyataannya tidak semudah itu. Saya tidak siap melepaskan pekerjaan tetap yang saya miliki saat ini, dan kembali menjadi karyawan kontrak di situasi yang tak menentu — atau lebih buruk lagi tidak mendapat pekerjaan baru. Saya khawatir akan kehilangan tempat tinggal. Saya juga tidak tahu mau bekerja apa selain pekerjaan saya sekarang.

Normal gak, sih, kalau saya melankolis kayak begini? Haruskah saya mengambil keputusan besar tanpa memikirkan ke depannya? Atau sebaiknya saya bersabar dan berharap akan ada perubahan suatu saat nanti?


Dunia sudah banyak berubah selama dua tahun terakhir, dan perubahan ini tak jarang membuat orang takut dan kebingungan. Wajar kalau kamu tidak bersemangat menghadapi tahun baru.

Kamu telah menemukan hubungan langsung antara pandangan negatifmu soal kehidupan dan situasi kantor saat ini. Tapi kamu tidak sendirian. Buktinya, 2021 dijuluki sebagai tahunnya “Great Resignation”. Banyak orang di luar sana secara sukarela meninggalkan pekerjaan untuk mewujudkan keseimbangan hidup-kerja yang tidak mereka dapatkan selama ini.

Sebagai terapis okupasi, Tosca Gort sering memberi arahan kepada klien agar mereka bisa sukses dalam berkarier. Dia mengajari klien pentingnya mengevaluasi langkah terbaik yang bisa diambil apabila pekerjaan menyedot kebahagiaan mereka.

“Siapa saja pasti akan merasa depresi saat melewati masa-masa sulit, baik itu karena pekerjaan, masalah percintaan maupun COVID,” kata Gort. Kamu bisa merenungkan apa sebenarnya yang membuatmu sedih, dan berusaha mengatasi masalah itu setelah menemukan jawabannya.

“Orang yang sedang tidak baik-baik saja biasanya mencoba mengubah keadaan eksternal dengan harapan perasaan mereka segera membaik. Sayangnya, itu tak selalu berhasil,” imbuhnya. Apabila kamu dilanda kesedihan, Gort menyarankan agar kamu berkonsultasi terlebih dulu dengan terapis sebelum membuat keputusan besar terkait pekerjaan. “Kamu mungkin tidak bahagia dengan pekerjaan karena ada yang membuatmu merasa tidak nyaman di dalam hati. Apalagi sekarang kita menghabiskan sebagian besar waktu di dalam rumah dan jarang bergerak,” terangnya.

Jika ternyata pekerjaan memang menjadi masalah terbesar dalam hidupmu, kamu sebaiknya “mengevaluasi faktor apa saja yang membuatmu bahagia dan kesal di tempat kerja” sebelum memutuskan untuk resign.

Begitu kamu memiliki gambaran yang lebih jelas tentang apa saja yang tidak kamu sukai dari pekerjaan, kamu bisa mencari cara untuk menyesuaikannya supaya pekerjaan saat ini terasa lebih menyenangkan. Adakah aspek yang ingin kamu tekuni? Bisakah kamu menyelami sesuatu yang ingin kamu pelajari sejak dulu? Apakah mungkin untuk mempekerjakan orang lain yang bisa meringankan bebanmu? Adakah cara supaya kamu bisa bekerja dengan jam kerja yang lebih sedikit?

“Saat perasaan sedang buruk, banyak orang tidak menyadari kalau mereka masih bisa memperbaiki situasinya,” tutur Gort. “Ada begitu banyak hal yang terjadi — terutama sekarang, di tengah pandemi — sehingga kamu menyerah begitu saja. Kamu tidak punya kekuatan [untuk berjuang] dan merasa kewalahan.”

Ini menandakan situasi yang membuatmu tidak nyaman mungkin disebabkan oleh perasaan tak mampu mengubah keadaannya. “Saya sering melihat orang cenderung lebih mudah mengenali peluang dan memanfaatkannya ketika mereka puas dengan pekerjaan,” Gort menambahkan.

Setelah dua tahun hidup penuh ketidakpastian akibat pandemi, jelas saja jika orang tak berani melepaskan pekerjaan mapan yang telah menjamin kehidupan layak. Sulit sekali rasanya membayangkan apakah perubahan akan memengaruhi sektor pekerjaanmu di masa depan.

Namun, Gort menegaskan inilah risiko yang harus dihadapi untuk menghindari terjadinya burnout atau depresi jangka panjang. “Sering kali, orang ingin bekerja di sektor kreatif, tapi kemudian mereka menyadari juga ada pekerjaan yang tersedia di sektor lain dan kondisinya mungkin lebih baik,” sarannya. “Jangan pernah takut mengambil jalur yang sangat berbeda dari pengalamanmu selama ini. Pasar kerja sedang mengalami transformasi mendalam, dan pelatihan ulang akan menjadi hal yang umum di dunia kerja. Di beberapa sektor niche, kamu juga bisa bekerja sambil training.”

Intinya, “banyak orang dirundung kegalauan seperti ini, tapi sayangnya mereka sering kali baru mencari bantuan setelah mencapai titik terendah dalam hidup,” ungkap Gort. Guna mencegah hal ini terjadi, kamu bisa meminta bimbingan terapis okupasi atau coach karier untuk menyeretmu keluar dari kebingungan. “Pada akhirnya, semua keputusan ada di tanganmu. Akan tetapi, tidak ada salahnya jika kamu ingin meminta bantuan.”

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Netherlands.