Home Uncategorized Mendiang Remaja Aktif di Internet Berpeluang Jadi Santo Katolik Milenial Pertama

Mendiang Remaja Aktif di Internet Berpeluang Jadi Santo Katolik Milenial Pertama

111
0
mendiang-remaja-aktif-di-internet-berpeluang-jadi-santo-katolik-milenial-pertama

Carlo Acutis yang meninggal karena leukimia (kanker darah) pada 2006 di usia 15 tahun, berpeluang besar menjadi santo katolik pertama dari generasi milenial. Acutis oleh beberapa pihak, sudah dijuluki sebagai “Santo Pelindung Internet”.

Semasa hidupnya, Acutis amat aktif di internet untuk mengabarkan Injil serta memajukan kiprah organisasi Katolik lewat dunia maya. Dia membuat sekaligus mengelola situs untuk berbagai organisasi Katolik, serta mendokumentasikan berbagai mukjizat yang dilaporkan umat Kristen sedunia lewat internet sebelum meninggal.

Pada Sabtu (10/10) pekan lalu, nama Acutis resmi mendapat gelar beato, ini istilah khas gereja Katolik untuk mengidentifikasi sosok tertentu yang diyakini telah masuk surga, dan umat dapat memohon doa atas namanya. Proses beatifikasi ini berlangsung di Gereja Basilika Santo Fransiskus Asisi, di Perugia, Italia. Foto Acutis ditampilkan di belakang altar, saat dia mengenakan baju kasual kaos polo merah putih.

Karena melewati tahap ini, artinya kiprah Acutis semasa hidupnya sudah melalui seleksi dan penyelidikan ketat dari gereja, untuk memastikan dia selalu menjalankan ajaran Katolik, serta sosoknya terbukti menghadirkan mukjizat bagi umat yang pernah berdoa melalui perantaraannya. Tinggal satu tahap lagi bagi Acutis sebelum masuk jajaran orang-orang yang dikuduskan gereja, lalu menjadi wakil generasi milenial pertama yang diberi gelar tersebut.

Beberapa nama tenar era modern yang 10 tahun terakhir menjadi santo atau santa misalnya Bunda Teresa (dinobatkan menjadi santa pada 2016), atau Karol Józef Wojtyła, yang lebih dikenal masyarakat umum lewat gelarnya sebagai Paus Yohanes Paulus II.

Tahta Suci Vatikan menyatakan mukjizat berkat doa yang diperantarakan lewat Acutis mulai tercatat sejak 2013. Menurut dokumen gereja, kala itu seorang bocah di Brasil menderita penyakit pankreas berat, dan di masa sulit dia berdoa kepada Tuhan sembari meminta perantaraan nama Acutis yang dikenalnya lewat Internet. Bocah itu lantas sembuh total.

Untuk menjadi santo, Acutis butuh mencatatkan beberapa mukjizat lagi. Namun, kadang paus bisa memberi kelonggaran sehingga nama tertentu dapat lebih cepat dinobatkan sebagai orang kudus seperti dialami Bunda Teresa yang amat populer berkat kerja kemanusiaan merawat orang miskin di kota Kalkuta, India.

2C21ER0.jpg

Ibu Acutis, Antonia Salzano, saat diwawancarai surat kabar Corriere della Sera meyakini mendiang putranya sudah berperan dalam beberapa mukjizat lain semasa hidup. “Dulu dia pernah membantu seorang perempuan sembuh dari kanker, dengan berdoa pada Santa Madonna dari Pompeii,” kata Antonia.

Acutis lahir pada 1991 di London, Inggris. Kedua orang tuanya saat itu bekerja di luar negeri, meninggalkan kampung halaman mereka di Kota Milan, Italia. Keluarga Acutis awalnya tidak termasuk penganut Katolik yang taat. Meski begitu, Acutis menunjukkan religiusitas melebihi orang tuanya sejak masih belum SD. Dia rajin mengajak orang tuanya datang ke gereja, serta berinisiatif meminta mereka ikut acara ziarah keagamaan.

Semasa hidupnya, Acutis sangat aktif melakukan kerja sosial, kadang dia menghabiskan uang sakunya untuk membeli kantong tidur bagi tunawisma, serta menjadi relawan dapur umum yang dibikin gereja melayani orang miskin. Acutis mengaku terinspirasi Santo Fransiskus Asisi, yang di masa lalu membaktikan nyaris seluruh hidupnya melayani kaum miskin dan papa.

Selain beramal dan aktif di internet, Acutis tetaplah remaja normal. Dia menyukai gaya berpakaian kasual. Karenanya, ketika jasad Acutis digali kembali untuk proses beatifikasi, gereja memakaikan baju kesukaannya: jeans, sepatu Nike, serta kaos polo yang dulu dia pakai sehari-hari, merujuk laporan Catholic News Agency.

Paus Fransiskus, saat merespons beatifikasi Acutis, menyatakan kiprah mendiang remaja itu semasa hidupnya dapat menjadi contoh bagi muda-mudi Katolik sedunia.

“Acutis tidak diam saja melihat keadaan, dia selalu bertindak untuk sesama. Sebab, bahkan ketika dia sendiri menderita sakit, Acutis selalu menyaksikan langsung wajah Kristus,” kata Paus Fransiskus.