Home Uncategorized Operasi Plastik Kian Digilai Anak Muda Jepang

Operasi Plastik Kian Digilai Anak Muda Jepang

37
0
operasi-plastik-kian-digilai-anak-muda-jepang

Rucchi tak ada bedanya dengan para ibu yang menginginkan hal terbaik untuk anak-anaknya. Dia berharap putrinya, Micchi, tumbuh menjadi sosok yang percaya diri. Dia juga berharap anak perempuannya tidak melalui pengalaman yang sama seperti saat dirinya masih kecil. Rucchi tidak mau orang memandang rendah penampilan fisik sang buah hati. Itulah sebabnya ia sering menyinggung soal bentuk mata Micchi yang monolid, dan menawarkan operasi kelopak mata supaya putrinya terlihat lebih cantik.

Bentuk kelopak mata ideal menjadi topik obrolan keduanya sehari-hari. Rucchi selalu menanyakan prosedur apa yang diinginkan oleh anaknya. Kira-kira Micchi mau yang kurang invasif, atau justru sekalian memangkas kulit kendur di sekitar kelopak mata? Kalau menurut Rucchi, mending anaknya pilih opsi yang mahal sekalian, supaya hasilnya lebih memuaskan. Interaksi semacam ini sering ia pamerkan dalam channel YouTube miliknya.

Namun, umur Micchi saat itu belum genap 10 tahun. Bocah itu bahkan menangis kesakitan selama jalannya operasi. Keputusan sang ibu dikecam habis-habisan begitu videonya viral di TikTok. Mereka juga mempertanyakan alasan ahli bedah melanjutkan prosedurnya, meski tahu Micchi masih di bawah umur.

Mata akan terlihat lebih besar dengan kelopak ganda. Bentuk mata ini sangat populer di Jepang. Foto: Shutterstock.

Mata akan terlihat lebih besar dengan kelopak ganda. Bentuk mata ini sangat populer di Jepang. Foto: Shutterstock.

Pengalaman Micchi sebagian dipengaruhi oleh keinginan ibunya, tapi ia bukan satu-satunya anak muda yang memperbaiki bentuk wajah sejak dini. Berbeda darinya, mereka melakukan prosedur kecantikan tampaknya atas kemauan sendiri.

Hasil survei sebuah klinik di Jepang pada 2021 menemukan, sembilan dari 10 responden yang baru berusia remaja mempertimbangkan operasi plastik guna mengatasi rasa minder. Jumlahnya meningkat dari dua tahun sebelumnya, yang saat itu sebesar tujuh dari 10 orang. Sementara itu, lebih dari 220.000 prosedur kecantikan di Amerika Serikat diberikan kepada pasien berusia 13-19 setiap tahunnya.

Tingginya ketertarikan anak muda untuk merombak penampilan telah menimbulkan kekhawatiran di berbagai negara. Tahun lalu, pemerintah Inggris melarang anak di bawah usia 18 melakukan operasi penebalan bibir atau lip filler. Standar kecantikan di media sosial diyakini sebagai pendorong utama. Berbagai studi telah menunjukkan, orang semakin sadar akan penampilan diri seiring berkembang pesatnya jejaring sosial, seperti Instagram atau Facebook. Kemunculan filter-filter cantik macam bibir tebal dan wajah tirus dapat menumbuhkan rasa ingin memperoleh penampilan “sempurna” dalam diri pengguna, terutama jika mereka melihat betapa berbedanya rupa mereka di dunia nyata. Pakar kesehatan telah memperingatkan bahaya operasi plastik, khususnya bagi mereka yang belum dewasa.

Toru Aso mengaku semakin sering mendapat pasien anak kecil dalam beberapa tahun terakhir. Selama 20 tahun kariernya sebagai ahli bedah kosmetik, kebanyakan klien Aso adalah perempuan berusia 20-an hingga 30-an. Akan tetapi, masanya sekarang sudah berubah. “10 tahun yang lalu, saya menangani satu anak di bawah umur dalam sebulan. Tapi sekarang, klinik saya kedatangan seorang pasien di bawah umur setiap harinya,” ungkap dokter yang membuka klinik di Tokyo kepada VICE World News.

Pasien Aso biasanya memilih operasi kelopak mata atau blefaroplasti untuk mengikuti tren kecantikan di dalam negeri. Pada 2020, prosedur ini menyumbang lebih dari 64 persen dari semua jenis bedah plastik di Jepang. Blefaroplasti relatif aman jika dibandingkan dengan operasi besar-besaran seperti Brazilian Butt Lift atau sedot lemak, tapi bukan berarti tidak berbahaya sama sekali. Operasi kelopak mata dapat menyebabkan kebutaan atau cedera otot mata bila tidak hati-hati.

Warga Jepang di bawah 18 tahun diizinkan melakukan operasi plastik jika mereka telah mendapat persetujuan orang tua. Namun, menurut Aso, ada orang tua yang menyalahgunakan peraturan untuk memaksakan standar kecantikan yang mereka anut pada anaknya. Itulah mengapa Aso selalu memastikan sang anak tidak dipaksa orang tua sebelum melanjutkan prosedur. “Saya mengajak mereka ngobrol secara terpisah untuk melihat apakah anaknya memang ingin operasi. Saya sudah berulang kali menyaksikan orang tua menyeret anaknya ke klinik supaya mereka mau dioperasi,” terangnya.

Tomohiro Suzuki, profesor Tokyo Future University yang mendalami psikologi anak dan citra tubuh, menyebut anak belum sepenuhnya mengerti apa yang mereka inginkan terkait penampilan fisiknya, sehingga anak bisa saja menyesali atau malah tidak puas dengan hasil operasi setelah mereka bertambah dewasa. Bukan tidak mungkin hal ini mendorong mereka untuk menyempurnakan penampilan.

“Mereka terjebak dalam lingkaran yang membuatnya sulit untuk tidak operasi plastik lagi,” Suzuki menjelaskan.

Semakin banyak anak muda mempertimbangkan operasi plastik di Jepang. Foto: Stephen J. Boitano/Lightrocket via Getty Images

Semakin banyak anak muda mempertimbangkan operasi plastik di Jepang. Foto: Stephen J. Boitano/Lightrocket via Getty Images

Sejumlah dokter bedah di Jepang menilai ada pengaruh standar kecantikan orang Barat dalam melejitnya popularitas kelopak mata ganda di dalam negeri. Pasalnya, orang keturunan campuran Jepang-Kaukasia kerap menginspirasi penampilan ideal di media nasional. Akan tetapi, Laura Miller mengusulkan pandangan yang bertentangan. Profesor studi Jepang dan antropologi di University of Missouri, AS, mengatakan, warga Jepang cenderung melakukan operasi kelopak mata karena iri melihat penampilan artis lokal.

Dalam risetnya, tak ada satu pun anak muda di Jepang yang mengidolakan wajah orang Barat. “Banyak perempuan yakin mereka akan terlihat lebih kawaii dan secantik model Jepang setelah operasi,” Miller memberi tahu VICE World News melalui email.

Maraknya influencer di dunia maya dipercaya juga mengipasi obsesi anak muda untuk memermak total muka mereka, tak terkecuali di Negeri Sakura. Contohnya seperti Nonoka Sakurai—bernama asli Rie—yang tenar mempromosikan operasi plastik. Menurutnya, dia sudah terpikir memperbaiki struktur muka sejak umurnya baru delapan tahun.

Perempuan itu menceritakan, dulu dia dijauhi teman sekelas gara-gara tidak cantik. Dia bahkan sering dicemooh mirip gorila karena lubang hidungnya yang besar. Jadi tidak heran kalau ia berambisi mengecilkan hidung setelah berulang tahun ke-18. Puluhan juta yen yang telah dikucurkan Nonoka belasan tahun terakhir sukses membangkitkan rasa percaya dirinya. “Sekarang saya bisa berjalan dengan bangga berkat operasi plastik,” tuturnya. Di samping kesibukannya bikin konten soal oplas, Nonoka mengelola bar yang para pelanggannya dilayani perempuan cantik.

Namun, realitas di balik layar tak seindah yang ia tampilkan di depan para pengikutnya. Nonoka kewalahan mengikuti setiap tren kecantikan yang bermunculan di internet. “Orang bilang wajahku sudah basi,” keluhnya.

Komentar semacam itu biasanya datang dari akun anonim, meski kadang ada pula pelanggan yang ceplas-ceplos berkata mereka lebih suka wajah Nonoka sebelum dioplas.

Keharusan meng-upgrade paras tak jarang menyiksa Nonoka. Lepas pasang tulang rawan demi hidung mancung begitu menyakitkan, belum lagi saat ia harus suntik silikon untuk menjaga penampilan. Kata Nonoka, rasanya kadang ingin mati saja menahan cenat-cenut yang luar biasa selama masa pemulihan. Walaupun begitu, dia takkan pernah puas merombak wajah jika belum menemukan orang yang mau menerimanya apa adanya.

Sebetulnya kecantikan bukanlah segala-galanya bagi Rucchi, tapi ia dituntut mulai memikirkan penampilan setelah diperlakukan berbeda dari adik dan ibunya yang punya kelopak mata dobel. Adik perempuannya selalu dipuji tetangga, sedangkan dia tidak pernah sekalipun mendapat perhatian. “Semua orang lebih menyukai adikku,” ujarnya.

Dianaktirikan seperti itu menyadarkan Rucchi betapa pentingnya tampil rupawan bagi perempuan, sehingga Rucchi memutuskan operasi setelah cukup umur. Sekarang, ibu lima anak ini berharap kedua putrinya mengetahui manfaat bedah plastik sejak mereka masih kecil.

“Saya belum pernah bertemu perempuan cantik yang punya monolid,” tukasnya. Berbeda halnya dengan tiga putra Rucchi, yang dibiarkan tampil apa adanya. Menurut sang ibu, cowok jelek tetap akan disukai selama mereka cerdas dan berduit.

Rucchi sudah punya rencana mengajak Micchi operasi mengecilkan hidung begitu dia berusia 18. Kayaknya oke juga kalau putrinya berdada besar, kata Rucchi.

“Tapi kita lihat saja nanti, siapa tahu punya dia tumbuh besar. Kalau dia khawatir dadanya kecil, saya akan mendukungnya untuk operasi,” lanjutnya.

Rucchi siap mendanai semua kebutuhan fisik putri-putrinya supaya mereka selalu tampil jelita.

Follow Hanako Montgomery di Twitter dan Instagram.