Home Uncategorized Seperti Ini Rasanya Jadi Korban Hacking, Sekaligus Diperas Pakai Foto Bugil

Seperti Ini Rasanya Jadi Korban Hacking, Sekaligus Diperas Pakai Foto Bugil

76
0
seperti-ini-rasanya-jadi-korban-hacking,-sekaligus-diperas-pakai-foto-bugil

Di era digital, sudah menjadi lumrah bagi yang melek teknologi untuk membicarakan kehidupan pribadi dengan orang asing di chat room. Bagi sebagian orang, identitas anonim memungkinkan mereka untuk lebih terbuka soal seks dan mengirim foto bugil. Namun, anonimitas juga memberi celah kepada peretas untuk membobol chat room dengan identitas palsu. Orang-orang tidak bertanggung jawab ini akan memanfaatkan informasi curian untuk memeras pengguna.

November lalu, warga Korea Selatan bernama Cho Ju-bin dinyatakan bersalah karena memimpin kelompok yang melakukan pemerasan seks atau sextortion terhadap perempuan. Korban dipaksa mengirim video cabul, yang nantinya diposting ke chat room berbayar.

Beberapa bulan sebelumnya, pada Mei, perempuan di India mengekspos chat room Bois Locker Room yang para anggotanya — mayoritas laki-laki dan bocah di bawah umur — membicarakan rencana menyerang teman sekelas perempuan.

Menurut laporan terbaru dari lembaga pengawas korupsi Transparency International, “bukti menunjukkan sextortion secara tidak proporsional menargetkan perempuan.”

Ayesha*, influencer India, pernah menjadi korban kejahatan siber ini. Percakapan intim Ayesha bocor ke situs darknet pada November 2020. Setelah itu, peretas mengancam akan menyebar isi chat jika dia tidak mengirim foto telanjang. Kepada VICE, perempuan 18 tahun menceritakan sisi gelap pertemanan virtual.


Masa remajaku sangat indah dan menyenangkan. Bisa dibilang aku populer di media sosial, dengan puluhan ribu pengikut di Instagram dan Snapchat. Aku bergabung di ratusan grup chat, dan memberikan kiat-kiat menjadi influencer. Tapi itu semua bertahan hanya sampai November lalu. Sekarang, aku terlalu takut untuk main medsos dan mengecek hp. Aku bahkan berhenti menggunakan Alexa karena merasa ada yang memata-mataiku setiap saat.

Aku terbangun di pagi hari pada 2 November sambil memikirkan apa saja yang akan aku lakukan setelah menginjak usia 18. Ulang tahunku tinggal enam hari lagi saat itu. “Aku bisa hidup bebas secara legal,” batinku. “Aku bisa membuat keputusan sendiri, keluar malam, dan bikin SIM.”

Aku mengecek ponsel dalam keadaan setengah sadar. Ada tiga pesan WhatsApp terhapus dari nomor tidak dikenal. Aku tidak menggubrisnya, lalu melanjutkan tidur. Tapi beberapa menit kemudian, aku menerima telepon dari nomor yang sama.

“Hai Ayesha! Udah punya rencana buat ulang tahun belum? Aku punya kejutan besar untukmu. Siap-siap ya,” katanya sebelum menutup telepon.

Aku bingung apa maksudnya dan siapa orang itu. Mungkin mereka seorang pengikut, pikirku.

Siang harinya, aku menerima pesan Telegram dari nomor itu lagi. Mereka mengirim video bokep yang mempertontonkan wajahku di badan orang lain.

Videonya kemudian hilang. Aku panik bukan kepalang dan langsung mengurung diri karena syok.

Rupanya itu baru permulaan. Aku menerima video serupa setiap hari.

Selanjutnya, mereka mengirim konten intim — foto, video, rekaman suara — yang hanya diketahui olehku dan mantan cowok virtualku, Andrew Burnett.

Saat itulah aku menyadari hubungan kami dan kepergiannya yang tiba-tiba hanyalah tipuan. 

Aku kenal Andrew di sebuah chat room pada April. Grup itu bernama Soulmates Forever. Dia mengaku masih kuliah dan tinggal di Jerman. Ada lebih dari 20 anggota aktif di sana, tapi Andrew sering menggodaku. Kami sering ngobrol tentang percintaan, kepercayaan dan hubungan.

Seminggu kemudian, kami memulai chat pribadi dan menamakannya “Only us, Forever!”

Andrew tiba-tiba menghilang setelah tiga minggu ngobrol tanpa henti. Nomornya tidak bisa dihubungi. Pada November, obrolan kami kembali menghantuiku.

Aku disuruh mengirim foto bugil kalau tidak mau videonya diunggah ke situs bokep. Mau tak mau aku mengikuti permintaan mereka.

“Download Confide,” bunyi pesan yang kuterima di Telegram.

Setelah mengunduh aplikasi, kotak masukku dibanjiri pesan-pesan bernada seksual. “Want to see your b**bs”, “Show us your wild side”, dan “Talk dirty” hanyalah beberapa contohnya.

Aku tidak punya pilihan selain mengikuti apa kata mereka. Aku jijik melihat diri sendiri di depan cermin. Aku merasa tercekik dan mengalami serangan panik. Aku tidak bisa berhenti memikirkan ingin bunuh diri.

Aku tidak bisa cerita ke siapa-siapa. Aku terlalu malu dengan semua ini.

Pada 15 Desember, aku menjabarkan pengalamanku dalam surat wasiat. Aku lalu menaruh beberapa butir obat tidur di dekat kasur. Saat sedang bermeditasi, aku mendadak teringat akun LSM yang pernah aku ikuti di Twitter dulu. Itu akun Indian Cyber Army.

Setelah menghubungi mereka, aku mengirim semua tangkapan layar pesan, ID profil, dan informasi tentang Andrew. Mereka meyakinkan kalau aku tidak perlu melapor ke polisi. Mereka akan segera menindak kasusnya, dan menjaga kerahasiaan identitasku.

Dalam seminggu, perwakilan LSM mengabarkan telah memblokir semua profil pengguna yang bergabung di chat room tersebut. Orang yang menerorku menggunakan identitas palsu untuk membeli nomor. Mereka menjamin kontennya sudah dihapus dari darknet dan chat room.

Meski sekarang masalahnya sudah berakhir, pengalaman buruk ini telah mengubahku. Aku amat ketakutan dengan dunia virtual. Untungnya, aku berkonsultasi dengan terapis yang mampu membantuku melewati semua ini.

Orang-orang bilang teknologi semakin mendekatkan kita selama pandemi. Tapi untukku pribadi, aku tidak mau menjadi bagian dari new normal ini.

*Nama telah diubah untuk melindungi privasi narasumber.