Home Uncategorized Syarat Masuk D3 Universitas Brawijaya Diperdebatkan, Pendaftar Harus ‘Good Looking’

Syarat Masuk D3 Universitas Brawijaya Diperdebatkan, Pendaftar Harus ‘Good Looking’

23
0
syarat-masuk-d3-universitas-brawijaya-diperdebatkan,-pendaftar-harus-‘good-looking’

Gara-gara satu twit di akun base, Universitas Brawijaya (UB) Malang kini disorot publik. Perkaranya adalah syarat berpenampilan menarik sebagai kriteria penerimaan mahasiswa. Syarat ini disodorkan ke peserta Seleksi Mandiri Program Studi D-3 Keuangan Perbankan dengan bidang minat Perbankan. Tubir dipicu postingan di akun @sbmptnfess pada Rabu (6/7) lalu. Sampai artikel ini ditulis, twit sudah dibagikan lebih dari 5.000 kali.

Syarat ini ternyata benar adanya, dikonfirmasi Sekretaris Direktorat Administrasi dan Layanan Akademik UB Heri Prawoto Widodo. Tapi jangan keburu emosi karena ada penjelasan lanjutannya. “Sebenarnya ini adalah informasi tiap tahun selalu ada dan khusus yang D-3 Perbankan. Itu saja sebagai tambahan syaratnya,” ujar Heri dilansir Kompas.

Heri juga menjelaskan bahwa kriteria ini bisa muncul karena kampus mengacu pada permintaan pihak perbankan yang bermitra dengan UB. “Itu dari pihak bank mitra karena mereka yang memenuhi syarat akan direkrut oleh pihak bank. Biasanya, kalau tidak pandemi akan dicek langsung oleh pihak mereka [bank].” Menurut kampus, syarat ini wajar karena kebutuhan banknya emang gitu.

Saat kami tanyai pendapatnya, pengamat pendidikan Toto Rahardjo maklum dengan syarat unik masuk kuliah ini. Menurutnya, kasus ini emang konsekuensi dari sekolah vokasi yang tugasnya mencetak tenaga kerja. Tuntutan institusi agar mampu menjawab kebutuhan dunia kerja berimbas pada cara rekrutmen peserta didik yang kerap butuh penyesuaian tersendiri.

“Dalam kasus dunia perbankan misalnya, bahwa pegawai bank selama ini sudah masuk stereotip: selalu pakaiannya rapi, parlente, wangi, dan sebagainya,” jawab Toto saat dihubungi VICE.

Toto beralasan, respons tentu akan lebih keras apabila syarat ini dimasukkan untuk pendidikan yang lebih umum. “Vokasi kan sudah model mencetak [tenaga kerja]. Kalau di vokasi, memang tegas-tegas mau mencetak orang menjadi tenaga kerja, ya pasti dia akan menyesuaikan dengan pasar yang membutuhkan. Jadi, enggak bisa dikaitkan kepada pendidikan secara umum. Kalau [syarat ini diberlakukan] secara umum, ya bertentangan. [Kritik saya] sekolah bukan dalam rangka mencetak tenaga kerja, [tapi] itu soal lain lagi,” tambah Toto.

Namun, bukankah tugasnya institusi pendidikan adalah mengajarkan? Kenapa harus memilih mahasiswa kalau pada prosesnya nanti akan diajarkan caranya berpenampilan menarik? Toto menjawab bahwa sistem pengajaran vokasi lebih mengarah ke pelatihan dibandingkan pendidikan.

“Memang itu dunia mencetak, bukan pendidikan itu. Yang menurut saya, yang lebih perlu diingatkan itu orang sebelum masuk ke situ. Kamu cocok apa enggak? Kalau enggak cocok ya jangan lah. Vokasi itu kan model-model pelatihan sebetulnya, cuma pelatihan jangka agak panjang,” tutup Toto.

Pemberitaan soal syarat tak biasa untuk masuk universitas sebelumnya pernah terjadi kala Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta (UPNVJ) ngadain kuota untuk para kreator konten dengan pengikut minimal 10 ribu.

Syarat masuk untuk seleksi jalur mandiri 2019 ini sempat bikin warganet heran. Wakil Rektor 1 UPNVJ Ante Venus meyakini bahwa dibukanya jalur prestasi untuk kreator konten justru akan meningkatkan kualitas universitas.

Nyatanya ada empat calon mahasiswa yang berhasil menembus jalur khusus ini. Mereka adalah Audijie Keysia, Aurellia Astadewi, Krisna Maulana Nugraha, dan Raissa Anggiani Sulastyo.

Jalur semacam ini juga tercatat pernah dilakukan Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur, Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta, Universitas Pekalongan, Universitas Muhammadiyah Malang, dan Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Mandala Indonesia (STIAMI).

Ngomong-ngomong soal good looking, sayang untuk melewatkan arsip satu ini. Kalau kamu masih ingat, pada 2020 lalu Menteri Agama Fachrul Razi sempat melempar teori konspirasi tentang cara radikalisme menyusupi masjid-masjid di Indonesia. Tekniknya dengan mengirim anak muda good looking agar aktif di masjid. Kenapa harus good looking dah? Ternyata biar meraih simpati pengurus masjidnya sehingga kelak dipercaya buat mengelola masjidnya.