Home Uncategorized Viral Larangan Beri Makan Kucing Liar di Jakbar, Dipicu Drama Antar Tetangga

Viral Larangan Beri Makan Kucing Liar di Jakbar, Dipicu Drama Antar Tetangga

24
0
viral-larangan-beri-makan-kucing-liar-di-jakbar,-dipicu-drama-antar-tetangga

Dapat surat edaran dari RT/RW itu biasa. Yang isinya melarang warga ngasih makan kucing liar, itu baru luar biasa. Surat semacam itu yang baru aja diedarkan oleh pengurus RW 03 perumahan Green Garden, Kedoya Utara, Jakarta Barat.

Kalau sekarang suratnya jadi viral di medsos cukup wajar. Kebijakan melarang orang melakukan street feeding ke kucing liar terhitung tidak populis dan melawan tren arus utama di negara ini.

Berikut lampiran foto surat edaran yang lagi ramai dibincangkan di Twitter. Redaksionalnya memag enggak asik banget kalau dibaca cat lover. Inti kasus ini adalah ada sejumlah warga yang keberatan dengan banyaknya kucing liar di lingkungan perumahan. Menurut para pelapor, kucing liar itu berdatangan karena ada warga perumahan itu yang saban pagi dan malam suka keliling ngasih makan kucing-kucing itu. 

Apakah alur sebab-akibat tersebut sudah tepat? Sayangnya, tidak ada upaya check and balance. Mungkin karena bukan penggemar berat kucing juga, alih-alih menghubungi puskeswan atau organisasi pencinta hewan yang jumlahnya tumpah ruah di Jakarta, pengurus RW-nya memilih “memberikan solusi”, demikian istilah dalam surat itu.

Solusinya seperti ini. Pertama, warga dapat menegur, melarang atau menghentikan langsung perbuatan si pemberi makan kucing tersebut. Kedua, merekam/memfoto warga yang suka memberi makan kucing tersebut sebagai bahan laporan ke pengurus RW.

Ketiga, berkoordinasi dengan petugas keamanan untuk melarang/menyita/merampas makanan buat kucing liarnya. Keempat, mendatangi rumah warga yang ngasih makan kucing liar itu bersama petugas keamanan atau Satpol PP buat memberi teguran.

Surat ini jelas seram banget karena membolehkan warga main hakim sendiri. Kalau RUU KUHP sekarang sudah disahkan, yang isinya mengatur seseorang bisa dipidana berdasarkan hukum di masyarakat (living law), bukan enggak mungkin si pemberi makan kucing liar tersebut sudah masuk penjara sekarang.

Tapi pas CNN Indonesia nyoba ngecek seberapa berwenang RW sampai ngelarang-larang warga buat ini-itu, Kapolsek Kebon Jeruk Kompol Slamet Riyadi bilangnya boleh-boleh aja. Alasannya sih, kan surat itu sudah atas kesepakatan warga. Yah, Pak, warga yang mana dulu nih. 

“Itu adalah upaya kebersamaan mereka untuk menata lingkungannya supaya lebih asri lagi. Tidak semrawut, untuk ketertiban bersama. Jadi jangan ditanggapi yang aneh-aneh. Itu kan hanya di lingkungan di RW itu aja,” kata Pak Kapolsek.

Lurah Kedoya Utara punya sikap berbeda. Ia berencana memanggil pengurus RW buat nyari solusi lain bersama Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) Jakarta Barat. 

Pak Lurah bilang, Sudin KPKP Jakbar juga sudah datang ke perumahan tersebut buat mengecek kabar.

“Alasannya aduan dari warga sekitar karena lingkungan jadi kotor saat makanan yang diberikan ke kucing tidak habis, atau sisa juga adanya kotoran kucing di sekitar lokasi dan muntahan kucing,” Tubagus Masarul Iman, Lurah Kedoya Utara, menjelaskan, dilansir Detik.

Masalah hewan mengganggu manusia (yang sekaligus bisa dianggap manusia mengganggu hewan) emang rentan memicu konflik horizontal. Keluhan utama tak lain soal kebiasaan kucing buat kencing dan berak di mana-mana. Agar ada solusi yang lebih manusiawi, kami mencoba bertanya kepada dokter hewan tentang cara mengatasi kucing liar buang air sembarangan.

“Kalau masalah pipis dan pup sembarangan memang butuh waktu dan kesabaran buat melatih supaya tidak buang air sembarangan. Tapi sekarang banyak dijual obat atau spray yang aman ditaburkan di lingkungan supaya kucing tidak pup dan pip sembarangan,” Aprilia Dwi Ariesanti, dokter hewan di Yogyakarta, saat dihubungi VICE.

Kebiri atau sterilisasi juga bisa menghentikan kebiasaan kucing jantan menyemprotkan kencing ke permukaan vertikal, seperti dinding. Sterilisasi emang gencar dikampanyekan pencinta hewan karena dianggap paling solutif. “Kalau untuk mengurangi populasi kucing agar tidak semakin banyak kucing bisa disteril, sering kok diadakan steril massal untuk kucing-kucing liar secara gratis,” imbuh April.